Hari Merdeka
Meriahkan HUT Kemerdekaan, Warga BTN Korpri dan Nusa Permai Mempawah Gelar Perlombaan
Anita Qurroti A’yuni, Lc., M.Pd., saat dihubungi mengatakan bahwa melalui perlombaan diharapkan dapat memupuk rasa persatuan, kesatuan
Penulis: Dhita Mutiasari | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI Ke-73, warga BTN Korpri dan Nusa Permai Kelurahan Tengah Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Mempawah menggelar berbagai perlombaan, sejak hari Minggu (5/8) hingga Sabtu (18/8/2018).
Ketua Panitia Perlombaan, Anita Qurroti A’yuni, Lc., M.Pd., saat dihubungi mengatakan bahwa melalui perlombaan diharapkan dapat memupuk rasa persatuan, kesatuan, kerukunan dan kekeluargaan bagi seluruh warga.
Baca: Kondisi Memprihatinkan SDN 15 Semirah Timbay , Aswandi: Ini Sudah 73 Tahun Indonesia Merdeka
Baca: Arti Kemerdekaan Bagi Generasi Muda
“Kita patut bersyukur hidup di alam kemerdekaan. Kita tidak perlu mengangkat senjata berperang melawan penjajah seperti dilakukan nenek moyang kita. Karena itu, mari kita jaga dan rawat kemerdekaan ini. Caranya dengan memupuk persatuan dan kesatuan sesama warga negara. Dan itu dimulai dari skala kecil, dari lingkungan tempat tinggal,” ujarnya.
Persatuan dan kesatuan Indonesia, sambung Anita, tidak akan terwujud jika warga di lingkungan tempat tinggal atau di tingkat Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) tidak bersatu dan tidak rukun.
Baca: 7 Kata Buat Presiden Jokowi dari Anak SD Polosok Kalbar, Terancam Tak Sekolah
Baca: Memprihatinkan! Sekolah Beralas Tanah dan Dinding Bolong di Pedalaman Kalbar, Ini Kata Bupati Jarot
“Melalui kegiatan lomba-lomba, semua warga dari mulai anak-anak, remaja, sampai orang tua keluar rumah berbondong-bondong mendatangi tempat perlombaan. Ada yang ikut sebagai peserta dan ada yang menjadi penonton. Tidak ada sekat usia, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan, profesi dan pilihan politik. Tampak kebersamaan dan kekompakannya,” lanjut Pengurus Dharmayukti Karini Cabang Mempawah itu.
Jenis perlombaan, lanjutnya, meliputi permainan yang sederhana dan merakyat.
Misalnya lomba lempar bola, memasukkan bendera, makan kerupuk, balap karung, kelereng, tepuk bantal di atas parit, tusuk balon, joget balon, lomba bakiak/terompah, sepeda hias, fashion show, remi box, gaple dan panjat pinang.
“Lombanya dipilihkan permainan yang mudah dan bisa diikuti oleh semua lapisan warga. Serta bersifat umum. Maksudnya, tidak ada lomba yang khusus diikuti oleh golongan agama atau suku tertentu,” tegasnya.
Perempuan lulusan Universitas Al-Azhar Kairo dan IAIN Pontianak itu menambahkan, walaupun lomba-lomba itu tampak hanya main-main namun di balik itu terdapat banyak pelajaran.
“Lomba-lomba itu sarat nilai. Di dalamnya terjadi internalisasi nilai-nilai karakter positif. Misalnya dari usia dini, anak-anak diajarkan untuk berlomba-lomba mengejar prestasi, berkompetisi dan bersaing. Namun saat yang sama diajarkan untuk bersikap fair dan sportif. Harus siap menang dan siap kalah, jangan menghalalkan segala cara demi kemenangan,” urainya.
Lebih dari itu, Anita menerangkan bahwa dalam perlombaan juga terdapat pelajaran akan pentingnya kerja sama dan gotong royong, seperti dalam lomba panjat pinang.
Tidak mungkin seseorang meraih puncak pinang tanpa bantuan orang lain. Itu artinya, untuk meraih kesuksesan tidak mungkin kerja individual, tetapi perlu kerja sama dengan orang lain. (*)