Opini
Indikasi Terjangkitnya Demam Berdarah serta Cara Penanganannya
Penyakit DBD atau DHF disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes egypti dan Aedes Albopictus.
Penulis: Syahroni | Editor: Rizky Zulham
Opini
Sasa Widianti
Mahasiswa Kimia Untan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) sampai saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah pasiennya serta semakin luas penyebarannya (Djunaedi,2006).
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang banyak ditemukan disebagian besar wilayah tropis dan subtropis, terutama Asia Tenggara, Amerika Tengah, Amerika dan Karibia (Chandra,2010).
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2015, penyakit demam berdarah pertama kali dilaporkan di Surabaya pada tahun 1968 dengan 58 orang yang terinfeksi da 24 orang diantaranya meninggal dunia.
Baca: Biddokkes Polda Kalbar Sosialisasi Pencegahan dan Pengendaliaan Penyakit Demam Berdarah
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mencatat ditahun 2015 pada bulan Oktober ada 3.219 kasus DBD dengan kematian mencapai 32 jiwa, sementara November ada 2.912 kasus dengan 37 angka kematian.
Penyakit DBD atau DHF disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes egypti dan Aedes Albopictus.
Kedua jenis nyamuk ini menjadi sumber penyebab terjadinya penyakit ini dan populasinya di Indonesia sangat banyak, kecuali ditempat-tempat ketinggian lebih dari 100 meter diatas permukaan air laut (Kristina at al,2004).
Penyakit DBD disebabkan virus dengue yang temasuk golongan kelompok B Arthopod borner Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal dengan Flavivirus, famili Flaviviricae, dan mempunya empat jenis serotipe yaitu :DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinis yang berat (Hadinegoro et al,2001).
Nyamuk Aedes sp yang sudah terinfeksi virus dengue, akan tetap infektif sepanjang hidupnya dan terus menularkan kepada individu yang rentan pada saat mengigit dan menghisap darah. Setelah masuk kedalam tubuh manusia, virus akan menuju organ sasaran yaitu sel kuffer hepar, endotel pembuluh darah,nodus limpaticus, sumsun tulang serta pau-paru.
Beberapa penelitian menunjukkan, sel monosit dan makrofag mempunyai peranan pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus kedalam sel dengan bantuan organel sel dan membentuk komponen perantara dan kompoonen struktur virus. Setelah komponen struktur dirakit, virus dilepaskan dari dalam sel.
Infeksi ini menimbulkan reaksi immunitas protektif terhadap serotipe virus tersebut, tetapi tidak ada cross protective terhadap serotipe virus lainnya (Chandra,2010). Seseorang yang darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penular DBD. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam.
Jika penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar dibebagai jaringan tubuh nyamuk, termasuk dalam kelenjar liurnya. Kira-kira setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap menularkan kepada orang lain (masa inkubasi instrinsik).
Virus ini akan berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidup nya, penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk (mengigit). Sebelum menghisap darah, nyamuk akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis), tujuannya agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersamaan air liur tersebut virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2005), diagnose penyakit DBD dapat dilihat berdasarkan kriteria diagnosa klinis dan laboratoris. Berdasarkan diagnosa klinis tanda dan gejala penyakit DBD yaitu demam tinggi mendadak 2-7 hari (38º-40ºC), manifestasi pendarahan dengan bentuk : uji Tourniquet positif, petekie(bintik merah pada kulit), purpura (pendarahan pada mata), Epistaksis (pendarahan pada hidung), pendarahan gusi, Hematemesis (muntah darah), Melena (BAB darah) dan Hematuri (adanya darah dalam urin).
Gejala lainnya pada seseorang yang terkena DBD adalah rasa sakit pada otot dan persendiaan, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecah nya pembuluh darah dan pembesaran hati (hepatomegali). Bedasarkan diagnose laboratoris gejala yang ditimbulkan pederita DBD yaitu trombositopeni pada hari ke-3 sampai ke-7 ditemukan penurunan trombosit hingga 100.000/mmHg dan hemokonsentrasi yaitu meningkatnya hematrokit sebanya 20% atau lebih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/sasa-widianti_20180528_110029.jpg)