Warga di Sanggau Ini Lahirkan Bayi Kembar Siam Dempet Perut, Dokter Beberkan Kondisi Bayi
Ia menjelaskan, dalam keadaan bayi yang tidak bisa kita prediksi, sehingga apabila dibiarkan di RSUD Sanggau dan terdepat kelainan-kelainan
Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Hendri Chornelius
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Jumati isteri dari Joko Susilo, warga SP 4, desa Sape, kecamatan Jangkang, kabupaten Sanggau, melahirkan bayi kembar siam di RSUD MTH Djaman Sanggau, Rabu (20/12/2017).
“Ini lahir anak kedua, anak pertama sebelumnya lahir normal. Sebelumnya sempat dibawa di Puskesmas Balai Sebut, namun akhirnya dirujuk ke RSUD Sanggau untuk di operasi, ” kata Joko Susilo di temui di RSUD Sanggau, Rabu (20/12/2017).
Dikatakannya, sebelumnya pada saat dilakukan pemeriksaan, diketahui akan melahirkan bayi kembar.
“Periksa di Bidan katanya lahir kembar, ” jelasnya.
Baca: Sepanjang 2017, BNNK Sanggau Rehabilitasi 29 Pecandu Narkoba
Sementara itu, dokter spesialis anak (SPA) RSUD Sanggau, dr Harry Iskandar menyampaikan, sekitar pukul 07.00 Wib, datang ibu mau melahirkan dengan posisi kaki sudah keluar.
Dan belum sempat di periksa apa-apa dan mengharuskan untuk segera di operasi.
Baca: Ditetapkan DPO Sejak 2016 Silam Oleh Kejati Kalbar, 14 Terpidana Ini Masih Buron
“Pada pukul 09.00 Wib, setelah dikeluarkan dari perut ibu, lahir bayi perempuan dua orang dengan posisi menempel/menyatu dada dan perut, dengan berat badan keduanya 5300 gram, ” katanya.
Lanjutnya, pada saat lahir, keduanya tidak langsung menangis, setelah dilakukan tindakan delapan menit kemudian baru menangis. Kemudian distabilkan dengan dipasang infus dan lainya.
“Setelah stabil, bayi dilakukan foto rontgen untuk mengetahui kondisi organ-organ didalamnya. Ternyata belum dapat diketahui kondisinya apakah jantungnya satu atau dua, ginjalnya masing-masing atau menyatu dan organ-organ dalamnya belum dapat diketahui. Jadi diperlukan pemeriksaan USG lebih lanjut untuk mengethui kondisi organ didalamnya, ” tuturnya.
Kemudian, bayi ini juga belum juga dapat diketahui apakah memiliki cacat bawaan, cacat lahir lain yang terdapat di organ dalam seperti kebocoran jantung.
“Karena tidak dapat dilakukan pemeriksaan karena dada menyatu, sulit untuk dilakukan pemeriksaan. untuk pemeriksaan jantung memerlukan pemeriksaan yang namanya ekokardiografi. Kita tidak memilik alat tersebut dan ada di Pontianak di RSUD Dr Soedarso, ” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam keadaan bayi yang tidak bisa kita prediksi, sehingga apabila dibiarkan di RSUD Sanggau dan terdepat kelainan-kelainan, maka bayi akan terus memburuk dan tanpa bisa dapat penanganan apa-apa.