HUT Kota Pontianak

Banyak Belum Tahu, Ini Sejarah Berdirinya Tugu Digulis, Ceritanya Bikin Haru

Tugu Digulis, Sejarah Kelam yang Terlupakan. tugu yang merekam pergerakan politik di Kalimantan Barat.

Penulis: Muzammilul Abrori | Editor: Nasaruddin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Claudia Liberani
Tugu Digulis. 

"Untuk mencegah ini kemudian pemerintah Hindia Belanda menangkap kesebelas tokoh pemuda Sarekat Islam dan mengasingkannya ke sebuah tempat pembuangan orang-orang yang dianggap pemberontak dan berbahaya bagi pemerintahan kolonial, nama tempat tersebut adalah Boven Digul, letaknya di Kabupaten Tanah Merah,” tuturnya.

Pancuran air dengan perpaduan lampu sorot yang menghiasi Bundaran Digulis Pontianak di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kallbar, Selasa (7/2/2017) malam. Monumen yang dibangun untuk mengenang pahlawan dari Kalbar  yang dibuang ke Boven Digoel pada masa pendudukan Hindia Belanda.
Pancuran air dengan perpaduan lampu sorot yang menghiasi Bundaran Digulis Pontianak di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kallbar, Selasa (7/2/2017) malam. Monumen yang dibangun untuk mengenang pahlawan dari Kalbar yang dibuang ke Boven Digoel pada masa pendudukan Hindia Belanda. (TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI)

Sementara itu sejarawan dan sastrawan, Rosihan Anwar menulis dalam satu buku tentang Sjahrir menyebutkan, Boven Digul adalah penjara alam di tempat terpencil di pulau Papua, yang didirikan oleh pemerintah kolonial khusus untuk orang-orang yang dianggap mengancam pemerintahannya.

(Baca: Buah-buahan Eksotis di Istana Buah, Tonton Videonya )

Di sana para tawanan tidak disiksa, tapi dibiarkan mentalnya mati secara perlahan.

Para tawanan bisa jadi gila atau akhirnya meninggal karena wilayah tersebut sangat terasing.

Terletak di tengah hutan dan tidak ada akses untuk keluar dari sana. Rosihan Anwar menyebutkan serangan nyamuk dan buaya di Boven Digul adalah ancaman besar bagi para tawanan yang ingin melarikan diri.

Nama Tugu Digulis diambil dari nama penjara alam ini.

Makna Sebelas Bambu Runcing di Tugu Digulis

Syafaruddin Usman mengatakan sebelas tokoh Sarekat Islam dari Kalimantan Barat yang dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial diasingkan ke pulau Boven Digul.

Di penjara alam ini mereka dipaksa untuk melupakan gagasan perlawanan mereka.

Ada banyak tokoh yang gagal mempertahankan kewarasan dan berakhir dengan kehancuran.

(Baca: Percepat Layanan, Disdukcapil Akan Operasionalkan Mobil Keliling )

Meski kehancuran mental adalah yang paling berbahaya namun kematian di pembuangan adalah nasib buruk yang ditunda atau jika beruntung dihindari oleh semua tahanan.

Tiga dari sebelas tokoh politik Kalbar yang diasingkan ke sana meninggal ketika menjalani pembuangan di Boven Digul.

Lima di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor, sementara tiga lainnya meninggal karena sakit.  

Prasasti nama-nama tokoh Kalbar.
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Prasasti nama-nama tokoh Kalbar. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI)
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved