Masyarakat Dayak Helat Kongres Internasional di Bengkayang
Seminar tersebut dihadiri oleh perwakilan intelektual Dayak dari Sarawak, Sabah, Brunei dan Indonesia.
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Marlen Sitinjak
Laporan Wartawan, Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Masyarakat Suku Dayak akan menggelar Kongres Internasional Budaya Dayak pertama pada 3-6 Juni 2017 di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Kegiatan ini mengangkat tema “Membangun Manusia Dayak yang Berbudaya untuk Kesejahteraan dan Meningkatkan Daya Saing Daerah”.
Tujuannya untuk mengaktualisasikan kembali semangat persatuan Dayak sesuai dengan Persetujuan Tumbang Anoi Tahun 1894, dalam kerangka keberagaman dalam persatuan dan persatuan dalam keberagaman, empati, solidaritas, dan kolaborasi demi pemberdayaan Dayak.
Baca: Tutup Pekan Gawai Dayak, Christiandy Sampaikan Tiga Pesan Cornelis
"Dan kemuliaan Borneo (Kalimantan-Indonesia, Brunei Darussalam, Sabah Sarawak-Malaysia) secara keseluruhan melaui kolaborasi, kerjasama dan penciptaan yang saling menguntungkan," kata ketua panitia, Bambang Bider melalui rilis yang diterima Tribunpontianak.co.id, Sabtu (27/5/2017).
Kata Bambang, Dayak adalah penyebutan umum untuk penduduk asli di Pulau Borneo.
Pada masa penjajahan dan dari sudut pandang penjajah, cara hidup dan unsur unsur budaya yang berkaitan dengan penduduk asli dianggap sebagai hal yang primitif, kuno, penyembah berhala dan hal-hal yang berkisar seputar praktek pengayauan.
Pada saat bersamaan, para penulis dan akademisi dari Eropa Barat mengembangkan aliran Orientalisme yang mewakili pengetahuan orang orang Eropa tentang wilayah Asia Timur termasuk Borneo.
Baca: Turis dari 6 Negara Ini Ikut Menyaksikan Kemeriahan Gawai Dayak
Tentu saja, paradigma orientalisme mempunyai akibat yang berbeda pada orang Dayak. Buku buku, makalah, hasil hasil penelitian dan publikasi tentang Dayak dan Borneo ditulis berdasarkan cara orang orang luar memandang mereka dan pulaunya.
Selain itu, hal ini juga menyediakan ruangcara bagi orang Dayak menafsirkan diri mereka.
"Manifestasi dari cara pandang inilah yang membuat mereka merasa rendah diri, terpinggirkan, dan remeh. Dayak perlu diberdayakan," katanya.
Sejarah mencatat ada kesempatan bagi orang Dayak untuk mulai menyadari identitas, integritas, martabat dan kedaulatan mereka.
Pada Tanggal 22 Mei sampai 24 Juli 1894, dilaksanakan pertemuan Tumbang Anoi untuk menghentikan praktek pengayauan di antara sesama sub-sub kelompok suku Dayak, (Tumbang Anoi terletak di Kalimantan Tengah, Indonesia).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/paulus-tari-retno_20170526_140657.jpg)