Ledakan Bom di Gereja Samarinda

Kecam Aksi Teror, Ini 8 Pernyataan Sikap GMKI Pontianak

Aparat keamanan jelas sudah gagal dalam mengantisipasi kejadian. Pihak BIN tidak mampu mendeteksi lebih dini aksi teror ini.

Kecam Aksi Teror, Ini 8 Pernyataan Sikap GMKI Pontianak
tribunkaltim.co/siti zubaidah
Keluarga dari empat anak yang menjadi korban akibat ledakan bom di halaman parkir Gereja Oikumene di RS IA Muis, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Minggu (13/11/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Pontianak mengecam aksi teror yang menyerang Gereja Oikumene di Samarinda.

Baca: Matakin Kalbar: Pengeboman Tempat Ibadah Perbuatan Tak Manusiawi

Ketua GMKI cabang Pontianak, Kaleb Elevensi mengecam aksi teror tersebut, yang bahkan mengakibatkan anak-anak yang sedang bermain di luar Gereja menjadi korban.

Baca: Nama-Nama Empat Anak Yang Jadi Korban Ledakan Di Depan Gereja Samarinda

“Kita mengecam kejadian ledakan bom ini, apalagi korbannya adalah anak-anak, dari kronologis kejadiannya jelas, bahwa mereka sengaja menyasar anak-anak yang sedang bermain di luar gereja, kabar terbaru, ada satu korban meninggal, atas nama Intan Boru Marbun, yang tidak bisa tertolong karena luka bakar yang dialaminya sangat parah” ungkap Kaleb, Senin (14/11/2016).

Baca: Intan Olivia Bocah Dua Tahun Korban Ledakan Bom Samarinda Meninggal

Selain itu, Kaleb juga menegaskan, pihaknya menyayangkan atas gagalnya antisipasi dari pihak aparat keamanan, untuk mencegah secara dini kejadian ini.

"Aparat keamanan jelas sudah gagal dalam mengantisipasi kejadian. Pihak BIN tidak mampu mendeteksi lebih dini aksi teror ini. Kemarin media televisi memberitakan bahwa sudah ada ancaman terkait aksi teror ini, walaupun tidak menyebut secara spesifik gereja yang jadi sasaran. Seharus nya, ketika ada ancaman, bisa dilakukan penjagaan di saat ibadah," tegasnya.

Untuk itu, GMKI cabang Pontianak mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan resah atau bahkan ketakutan yang berlebihan, karena menurut Kaleb, justru hal itulah yang diinginkan para pelaku teror.

"Yaitu menimbulkan rasa takut, namun tetap perlu waspada. Masyarakat jangan terprovokasi, dan tidak usah terlalu cemas dan takut berlebihan, karena hal itulah yang diinginkan oleh para teroris, mereka meneror untuk menciptakan ketakutan, sehingga keadaan mencekam. Warga harus tetap tenang, dan disinilah peran aparat keamanan, untuk bisa memberikan rasa aman dan tenteram kepada masyarakat," ujarnya.

Lanjutnya, aksi terorisme yang terjadi di Gereja Oikoumene, Kota Samarinda, Kalimantan Timur merupakan provokasi yang tidak boleh dianggap sepele oleh setiap elemen bangsa.

Pasalnya, aksi terorisme ini patut diduga kuat sengaja menyasar anak-anak yang sedang bermain di luar gedung, ketika orang tua mereka sedang melakukan peribadatan.

Halaman
123
Penulis: Tito Ramadhani
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved