Kisah Gadis Pemakai Narkoba
Kenal Narkoba Pertama Kali Justru dari Ayah
"Saya ingin bebas, tidak mendekam di penjara lagi. Saya ingin sekolah, saya mau masuk pesantren saja," uja DAP alias Ica.
Kisah Bagian Kedua, KLIK DI SINI.
Kisah Bagian Ketiga, KLIK DI SINI.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MATARAM - Mata beningnya menyirat polos, tak beda dengan gadis-gadis seusianya yang mestinya masih tekun menyimak pelajaran di ruang kelas. Ia justru merenung dan merana di balik jeruji besi, berdebar cemas menunggu putusan majelis hakim.
"Saya ingin bebas, tidak mendekam di penjara lagi. Saya ingin sekolah. Ingin menyelesaikan sekolah! Setelah itu, saya akan masuk pesantren saja," DAP alias Ica, terdakwa kasus narkoba, menyuarakan keluhannya, di balik ruang tahanan Pengadilan Negeri Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (25/12/2013).
Bagi gadis yang statusnya masih pelajar di sebuah sekolah menengah atas di Mataram ini, menjalani hari-hari di ruang pengap penjara, sungguh melelahkan fisik dan batinnya.
Padahal, dahulu kala ia merenda hari-hari berdekap tawa dan canda bersama teman-teman seusianya, di sela waktu sekolah. Usai bersekolah, Ica pun terbiasa berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama para sahabatnya.
"Sekarang, saya hanya bisa meratapi nasib di balik tembok penjara. Kegiatan saya hanya olahraga tenis, selain itu, saya biasa membaca buku atau menulis cerita," kata gadis berusia 18 tahun ini.
Ica menuturkan, ihwal dirinya mengenal narkoba, memiliki latar belakang yang ganjil. "Ayah saya yang mengenalkan narkoba pada saya. Ayah saya seorang pengusaha kafe. Ketimbang saya keluar rumah dan keluyuran, maka ayah memberi saya narkoba lantas mengunci saya," kata gadis itu dengan mata menerawang.
"Ketika dikurung di kamar, saya sempat merusak pintu agar bisa lepas. Saya juga pernah pergi naik motor dari rumah tanpa tujuan jelas dan sampai di Batam," katanya.
Perbuatan ayahnya, menurut Ica, dilakukan tanpa sepengetahuan ibunya. Kedua orang tuanya memang memutuskan bercerai karena perbedaan keyakinan. (antara/Tri Vivi Suryani)