Viral Kisah 24 Pelajar Diami Gubuk Usia Puluhan Tahun di Bengkayang, Sutarmidji Harap Jadi Motivasi

Walaupun bisa dipaksakan lebih dari empat orang, tentu harus berdesak-desakan. Maklum, ruang kamar itu hanya berukuran 1,5x2 meter.

Penulis: Dhita Mutiasari | Editor: Dhita Mutiasari
Kolase/Tribunpontianak.co.id
Viral Kisah 24 Pelajar Diami Gubuk Usia Puluhan Tahun di Bengkayang, Sutarmidji Harap Jadi Motivasi 

Viral Kisah 24 Pelajar Diami Gubuk Usia Puluhan Tahun di Bengkayang, Sutarmidji Harap Jadi Motivasi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sempat viral di media sosial terkait pondok sederhana berkondisi memprihatinkan yang dihuni oleh 24 orang pelajar asal Sekolah Dasar (SD) 04 dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kecamatan Lumar di Dusun Sempayuk, Desa Belimbing, Kecamatan Lumar Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalbar.

Para pelajar disebut berasal dari Desa Sentalang, Desa Setia Budi, Kabupaten Bengkayang yang bisa ditempuh sekitar 3-4 jam jika berjalan kaki dari Dusun Sempayuk.

Karena pertimbangan jauhnya jarak tempuh, maka para pelajar harus berdiam di gubuk kayu itu.

Informasi tersebut akhirnya sampai ke telinga Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji.

Tak ingin berlama-lama, mantan wali kota Pontianak 2 periode tersebut akhirnya langsung meninjau langsung lokasi yang dijadikan sejumlah pelajar tersebut sebagai asrama, Sabtu (2/2/2019)

Baca: Kunjungi Pondok yang Dihuni 24 Pelajar di Bengkayang, Sutarmidji: Air Mata Hampir Tak Bisa Ditahan

Baca: Midji Pastikan Solusi Pembangunan Asrama Dekat Sekolah Jadi Solusi 24 Pelajar Di Bengkayang

Penuhi Janji

Gubernur Kalimantan Barat, H Sutarmidji menunaikan janjinya menemui puluhan siswa-siswi yang tinggal di gubuk tidak layak huni, Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019).

Di sela-sela padatnya aktivitas, orang nomor satu di Bumi Tanjungpura itu sempatkan diri bertemu dengan para pelajar yang membutuhkan perhatian pemerintah.

Sutarmidji bersama rombongan tiba sekitar pukul 14:57 WIB usai hadiri kegiatan di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas.

Midji sapaannya didampingi oleh Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kalbar Syarif Kamaruzaman, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalbar Suprianus Herman, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalbar Bride Suryanus dan pejabat lainnya.

Keluar dari mobil, Sutarmidji bergegas menyapa ratusan masyarakat yang antusias menyambut kedatangannya.

Tidak hanya masyarakat, rombongan Gubernur  juga disambut oleh unsur Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkayang melalui instansi terkait, sejumlah Camat dan Kepala Desa yang ada di Kabupaten Bengkayang.

Saat meninjau gubuk berlantai tanah itu, Midji terlihat tertegun.

Kondisi gubuk tidak layak huni yang disekat jadi tiga kamar di Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019).
Kondisi gubuk tidak layak huni yang disekat jadi tiga kamar di Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019). (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Rizky Prabowo Rahino)

Baca: Sutarmidi Bantah Harga Gabah Petani Anjlok, Ini Alasannya

Baca: Mengharukan, Pelajar Bengkayang Semangat Bersekolah Walau Tinggal di Gubuk Reyot

Ia pandangi gubuk berdinding kayu lapuk dan bilah-bilah bambu tua, serta mayoritas beratap rumbia sagu.

Ia masuki gubuk yang disekat jadi tiga kamar itu untuk mengecek kondisi kelayakan bangunan itu. Ruangan sekat terlalu sempit untuk dimasuki lebih dari empat orang.  

Walaupun bisa dipaksakan lebih dari empat orang, tentu harus berdesak-desakan. Maklum, ruang kamar itu hanya berukuran 1,5x2 meter.

Itu belum dihitung dengan ruang ukuran mini yang berfungsi sebagai dapur.

Terlihat tungku alakadar di pojok depan setiap kamar.

Di atasnya terlihat rak-rak yang dipergunakan sebagai tempat sejumlah piring, gelas dan peralatan makan lainnya.

Sementara itu, kayu bakar sebagai sumber api untuk memasak berbaring rapi di bawah kolong ruang kayu yang dijadikan sebagai difan untuk tidur.

Baca: Midji Tanggung Biaya Kuliah Rika, Mahasiswi Asal Bengkayang Yang Dulu Tinggal Di Gubuk

Baca: Harap Gubernur Kalbar Bangun Asrama Layak Huni, Dela: Jalan Kaki Capek

Selain untuk tidur, difan itu jadi tempat “nangkring” buku-buku pelajaran dan buku tulis sekolah. Di dinding-dinding kamar tergantung pakaian dan tas para pelajar. Tidak ada lemari khusus penyimpanan, begitu juga peralatan-peralatan elektonik

Hanya sebuah bohlam lampu tergantung di satu diantara kamar.

Midji sesekali terlihat menyeka keringat yang ada di kening usai memasuki sekat-sekat kamar.

Sungguh miris, panas dan pengap menjadi suasana tak terhindar ketika memasuki gubuk berusia puluhan tahun itu yang masih tetap berdiri dengan kayu penyangga agar tidak roboh.

Usai meninjau, Midji berinteraksi dengan sejumlah siswi dan siswi tepat di depan gubuk reyot itu. Di bawah naungan atap rumbia, para pelajar tampak bahagia dikunjungi mantan Wali Kota Pontianak dua periode itu.

Midji juga berkonsultasi dengan kepala desa dan camat setempat, serta instansi dinas terkait guna mendapatkan informasi dan segera lakukan penanganan terhadap keadaan ini.

Dalam sambutannya di depan masyarakat, Gubernur Kalbar H Sutarmidji memberikan apresiasi kepada masyarakat setempat yang telah menjaga dan memiliki kepedulian menyiapkan lahan untuk tempat tinggal sementara bagi 24 pelajar itu.

Midji menimpali dirinya sangat terharu ketika melihat langsung kondisi sangat memprihatinkan ini.

“Saya ucapkan terimakasih karena sudah menjaga mereka. Saya terharu dan hampir menitikkan air mata karena sangat memprihatinkan. Kepada masyarakat di sini, saya ucapkan terimakasih mendalam karena sudah menjaga mereka semua,” ungkapnya.

Baca: Midji Pastikan Solusi Pembangunan Asrama Dekat Sekolah Jadi Solusi 24 Pelajar Di Bengkayang

Baca: Penuhi Janji, Sutarmidji Tinjau Gubuk Reyot dan Temui 24 Pelajar di Dusun Sempayuk Bengkayang

Ia memberikan apresiasi kepada 24 pelajar yang memiliki semangat melanjutkan pendidikan lebih tinggi di tengah kondisi keterbatasan hidup yang dialami.

“Saya apresiasi mereka karena semangat menimba ilmunya itu luar biasa. Saya meminta adik-adik tetap semangat. Jangan putus sekolah,” terangnya.

Kisah seperti ini, terang Midji, selayaknya harus menjadi pembelajaran dan pengalaman bagi semua pihak untuk perduli terhadap dunia pendidikan.

Kisah 24 pelajar ini juga jadi motivasi bagi para pelajar Kalimantan Barat lainnya yang alami keterbatasan ataupun berkecukupan.

“Kisah ini memberikan motivasi semangat kepada anak didik lainnya yang selama ini mendapat sarana dan fasilitas pendidikan jauh lebih baik dari 24 pelajar ini,” harapnya.  

Midji menegaskan mulai tahun ajaran baru Juli 2019, siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri tidak lagi membayar uang iuran sekolah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar telah menggratiskan biaya pendidikan bagi anak-anak Kalbar.

Sebagai tindak lanjut kondisi 24 pelajar ini, Midji memastikan pembangunan asrama layak huni yang berada di dekat sekolah.

“Sementara ini mereka tetap disini. Kita akan siapkan bikin asrama tempat tinggal yang akan kita bangun di sekolah nanti. Itu supaya lebih dekat,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Sutamidji juga menyerahkan bantuan peralatan dan perlengkapan sekolah kepada 24 pelajar. Tidak hanya itu, sebagai apresiasi kepada masyarakat Dusun Sempayuk, ia menginstruksikan Kepala Dinas PU Provinsi Kalbar untuk memperbaiki jalan masuk dari depan hingga batas gubuk reyot itu sekitar 1,5-2 kilometer.  

“Sebagai hadiah kepada masyarakat di kawasan ini, saya tugaskan Pak Bride (Kepala PU Kalbar_red) perbaiki jalan mulai dari rumah (gubuk reyot_red) ini sampai ke depan sana. Silahkan dibeton atau diaspal. Dalam waktu dua bulan jalan ini akan kita perbaiki,” pungkasnya.

Sebelumnya, kisah 24 pelajar itu viral di media sosial. 24 pelajar itu merupakan siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 04 dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 02 Lumar.

17 orang anak diantaranya berasal dari Desa Setia Budi dan 7 orang lainnya asal Desa Sentalang Kecamatan Lumar Kabupaten Bengkayang.

Lantaran pertimbangan jauhnya jarak tempuh, para pelajar harus berdiam sementara di gubuk itu. Jika dari kampung asal, perjalanan ke sekolah harus ditempuh dengan jarak puluhan kilometer dan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam dengan berjalan kaki.

Ketika menempati di gubuk Dusun Sempayuk Desa Belimbing, perjalanan ke sekolah lebih ringkas karena hanya menempuh jarak sekitar 7 kilometer dan memakan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki. 

Baca: Hasil Akhir PSM Makassar vs Kalteng Putra, Juku Eja Melaju ke Babak 16 Besar

Baca: Koramil Tampung Sementara Warga Kurang Mampu

Solusi Pembangunan Asrama Dekat Sekolah

Gubernur Kalimantan Barat, H Sutarmidji memastikan pembangunan asrama baru merupakan solusi bagi 24 pelajar yang tinggal di gubuk tidak layak huni, Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang.

“Nanti kita satukan. Buatkan asrama di sekolah. Di SMP Dua Lumar,” terangnya saat diwawancarai awak media usai tinjau gubuk dan temui siswa-siswi yang berdiam sementara di gubuk itu, pada Sabtu (2/2/2019).

Awalnya, dirinya ingin membangun Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) satu atap.

Namun berdasarkan hasil koordinasi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkayang menginfromasikan bahwa jarak SDN 04 Lumar dan SMPN 02 Lumar sudah dekat.

“Sehingga kita akan fokus pada asrama saja,” terangnya.

Ia beri apresiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkayang sudah betul-betul memperhatikan pendidikan.

Midji menegaskan kembali bahwa kedatangan dirinya untuk melihat kondisi nyata di lapangan.

“Saya memang kesini karena harus melihat kondisi lapangan sebenarnya. Ternyata sudah ditanggani dengan baik. Mereka asramanya saja yang perlu ditangani. Tapi kalau yang ini (gubuk_red) jelas sudah sangat tidak layak. Saya sedih juga melihatnya,” jelasnya.

Mantan Wali Kota Pontianak dua peride itu kembali mengapresiasi semangat 24 pelajar yang punya kemauan kuat lanjutkan sekolah.

“Itu luar biasa, sehingga ini yang bisa dijadikan cambuk bagi yang lain. Bahwa dengan kondisi mereka seperti ini, semangat belajarnya luar biasa. Apalagi yang diperkotaan, kalau ada yang putus sekolah di perkotaan itu sudah terlalu,” pungkasnya. 

Baca: Polsek Kayan Hulu Lakukan Pengamanan Ibadah Umat Nasrani di GKE Nanga Tebidah

Baca: Dikira Kentang, Prancis Kirim Granat ke Pabrik Makanan Ringan

Pelajar Bengkayang Tetap Semangat  Bersekolah

Perjuangan sulit mereka tak menyurutkan semangat menuntut ilmu kendati harus tinggal sementara di gubuk tidak layak huni.

24 pelajar itu merupakan siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 04 dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 02 Lumar.

17 orang anak diantaranya berasal dari Desa Setia Budi dan 7 orang lainnya asal Desa Sentalang Kecamatan Lumar Kabupaten Bengkayang.

Saat berkunjung kesana, Tribun Pontianak melihat gubuk berlantai tanah itu tampak tua. 

Gubuk itu berdinding kayu lapuk dan bilah-bilah bambu tua, serta mayoritas beratap rumbia sagu. Gubuk disekat jadi tiga kamar.

Ruang kamar itu hanya berukuran 1,5x2 meter. Itu belum dihitung dengan ruang ukuran mini yang berfungsi sebagai dapur.

Siswi kelas VIII SMPN 02 Lumar, Mariana (kiri) dan Dini (kanan) bercerita tentang semangatnya bersekolah walau tinggal di gubuk tidak layak huni, Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019).
Siswi kelas VIII SMPN 02 Lumar, Mariana (kiri) dan Dini (kanan) bercerita tentang semangatnya bersekolah walau tinggal di gubuk tidak layak huni, Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019). (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Rizky Prabowo Rahino)

Terlihat tungku alakadar di pojok depan setiap kamar.

Di atasnya terlihat rak-rak yang dipergunakan sebagai tempat sejumlah piring, gelas dan peralatan makan lainnya.

Sementara itu, kayu bakar sebagai sumber api untuk memasak berbaring rapi di bawah kolong ruang kayu yang dijadikan sebagai difan untuk tidur.

Selain untuk tidur, difan itu jadi tempat “nangkring” buku-buku pelajaran dan buku tulis sekolah.

Di dinding-dinding kamar tergantung pakaian dan tas para pelajar. Tidak ada lemari khusus penyimpanan, begitu juga peralatan-peralatan elektonik. Hanya sebuah bohlam lampu tergantung di satu diantara kamar.

Sungguh miris, panas dan pengap menjadi suasana tak terhindar ketika memasuki gubuk berusia puluhan tahun itu yang masih tetap berdiri dengan kayu penyangga agar tidak roboh.

Satu diantara siswi kelas VIII SMPN 02 Lumar, Mariana menegaskan kendati hidup dalam keterbatasan, semangat untuk menuntut ilmu selalu jadi pijakan meraih masa depan.

Menurut dia dan teman-temannya, pendidikan penting untuk menunjang masa depan.

Terlebih mereka berlatar belakang dari keluarga tidak mampu yang bermata pencaharian sebagai petani desa.

“Tamat SMP, saya dan teman-teman ingin melanjutkan sekolah sampai SMA. Saya mau sekolah di SMA Bengkayang,” ujarnya saat diwawancarai di Dusun Sempayuk, Desa Belimbing, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019).

Saban hari Minggu, kata dia, orangtuanya termasuk orangtua teman-temannya berkunjung ke gubuk. Sembari melihat kondisi mereka, orangtua membawakan beberapa kebutuhan pokok seperti beras, sayur dan lauk-pauk seadanya.

“Bapak saya kebetulan kalau turun itu sekalian jualan hasil tani. Lalu belanja ke pasar. Antar ke kami,” terangnya.

Tidak hanya itu, Mariana juga dibekali uang jajan sebesar Rp 20 ribu. Uang Rp 20 ribu itu dipergunakan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup selama seminggu.

“Kami hidup seadanya di sini untuk bertahan hidup. Tapi tidak apa-apa, yang penting sekolah,” jelasnya.

Ia mengaku bersyukur atas tumpangan lahan yang diberikan oleh masyarakat Dusun Sempayuk. Terkadang, tidak segan-segan ada warga yang juga membantu mereka.

“Beruntung warga di sini baik-baik. Walaupun kami hanya menumpang," tandasnya.

Siswi SMP Kelas VIII lainnya, Dini mengakui dahulu ia bersekolah di SDN 19 Meilabu. Namun, karena jarak tempuh dari rumahnya ke sekolah itu jauh sekali maka ibunya ambil keputusan mencari sekolah lebh dekat.

“Kalau sebelumnya mendaki gunung, turun gunung. Mamak kamek ndak sekolah kan kamek di sana karena jauh. Pilih di sini yang dekat. Lalu bangun pondok ini untuk tinggal tempat kami. Supaya kami sekolah di SDN 029 sampai kami lulus,” ujarnya.

Usai tamat SDN 029, Dini melanjutkan pendidikan ke SMPN 02 Lumar yang berlokasi lebih dekat dari gubuk yang ditumpanginya. Perjalanan ke sekolah berjarak sekitar 7 kilometer dan memakan waktu sekitar 30-60 menit jika berjalan kaki.

“Jam enam berangkat. Sampai sekolah jam 7 lewat. Satu jam-an. Pergi sekolah sama-sama. Ini yang terdekat buat kami,” terangnya.

Ia menegaskan dirinya ingin menjadi orang sukses. Untuk mewujudkannya, ia besekolah sungguh-sungguh dan setinggi-tingginya.

“Saya habis tamat SMP ini, mau masuk SMA di Bengkayang,” imbuhnya.

Kendati tinggal di gubuk reyot itu, dirinya merasa nyaman dan senang. Ia berterimakasih kepada masyarakat yang menerima keberadaan mereka.  

“Biarpun kami diam di kampung orang, kami merasa enak dan senang. Kami ingin pendidikan sangat tinggi. Sangat aman, warga menerima kami di sini,” jelasnya.

Terkait gubuknya, Dini bercerita bahwa para pelajar tidur berdesak-desakan di ruang-ruang yang disekat menjadi kamar. Dalam satu kamar, ada yang diisi sekitar dua atau tiga orang.

“Tidur sempit-sempitan tidak masalah karena yang penting sekolah. Cuma atap ini bocor kalau hujan. Ada tempat deterjen yang sudah habis kami bikin untuk tampung airnya,” tukasnya.

 Harapan Dela

Raut wajah rona bahagia belasan anak-anak Desa Setia Budi dan Desa Sentalang terpancar ketika dikunjungi oleh Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji di gubuk tidak layak huni, Dusun Sempayuk, Desa Belimbing, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019).

Sutamidji menyerahkan bantuan peralatan dan perlengkapan sekolah kepada 24 pelajar. 24 pelajar itu merupakan siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 04 dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 02 Lumar.

Siswi kelas 2 SD 04 Lumar, Dela juga menyampaikan rasa senangnya ketika dikabari kunjungan Gubernur Kalbar H Sutarmidji ke gubuk tidak layak huni, Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019).
Siswi kelas 2 SD 04 Lumar, Dela juga menyampaikan rasa senangnya ketika dikabari kunjungan Gubernur Kalbar H Sutarmidji ke gubuk tidak layak huni, Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019). (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Rizky Prabowo Rahino)

Siswi SMP Kelas VIII SMPN 02 Lumar, Dini mengaku bahagia bisa bertemu dengan Gubernur Kalbar. Terlebih, gubernur menyempatkan diri melihat kondisi gubuk tinggalnya.

“Saya senang Pak Gubernur datang ke sini. Saya punya harapan sama Pak Gubernur biar bisa membantu kami. Pengen agar dibantu asrama,” ujarnya.

Siswi lainnya, Lala juga mengaku senang bisa dikunjungi orang nomor satu di Kalbar.

“Kami merasa sangat senang,” ucapnya.

Ia menimpali dirinya sangat bersyukur bisa tinggal di gubuk sederhana itu agar bisa tetap bisa lanjutkan mengenyam pendidikan.

“Sudah dua tahun saya dan teman-teman menetap di sini. Kalau dari Desa Setia Budi ke sini jauh. Jaraknya puluhan kilometer. Kami harus lewat jalan setapak dan menyeberangi sungai sebelum sampai ke sekolah,” terangnya.

Siswi kelas 2 SD 04 Lumar, Dela juga menyampaikan rasa senangnya bersua dengan Sutarmidji.

“Senang,” ujarnya.

Ia mengatakan sehari-hari dirinya bersama teman-teman berangkat sekolah dengan berjalan kaki.

“Jalan kaki capek. Jajan Rp 2 ribu sehari cukup. Kalau pulang sekolah main,” terangnya.

Dela menimpali dirinya ingin sekolah karena bercita-cita menjadi polisi wanita (polwan).

“Saya suka pelajaran Matematika. Mau jadi polisi,” singkatnya.

Tanggung Biaya Kuliah Rika

Gubernur Kalimantan Barat H Sutarmidji memberikan bantuan biaya kuliah semester kepada seorang Mahasiswi semester dua Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura bernama Rika.

Sebelum melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, Rika merupakan satu diantara penghuni gubuk tidak layak huni di Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019).

“Saya akan tanggung biaya kuliah Rika,” ungkapnya usai meninjau gubuk.

Gubernur Kalimantan Barat H Sutarmidji memberikan bantuan biaya kuliah semester kepada seorang Mahasiswi semester dua Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura bernama Rika usai kunjungi gubuk tidak layak huni, di Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019).
Gubernur Kalimantan Barat H Sutarmidji memberikan bantuan biaya kuliah semester kepada seorang Mahasiswi semester dua Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura bernama Rika usai kunjungi gubuk tidak layak huni, di Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (2/2/2019). (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Rizky Prabowo Rahino)

Mantan Wali Kota Pontianak dua periode itu berpesan kepada Rika untuk menginformasikan kepada dirinya jika sudah masuk jadwal pembayaran biaya kuliah semester. Berdasarkan informasi, Rika harus bayar biaya semesteran sebesar Rp 4 juta lebih.

“Kalau sudah mau bayar, kasih tahu saya. Nanti uangnya langsung saya bayarkan tiap semester,” terangnya. 

Midji sapaannya menimpali semangat Rika harus jadi contoh bagi pemuda dan pemudi Kalbar lainnya, khususnya yang sedang bersekolah dan kuliah.

“Jika mau belajar dan menuntut ilmu, kekurangan sarana atau prasarana bukanlah menjadi Penghalang. Tekad dan kemauan merupakan modal yang sangat kuat untuk mencapai keberhasilan,” pesannya.

Sementara itu, Rika sangat bersyukur atas bantuan spontanitas yang diberikan oleh Gubernur Kalbar usai berkunjung ke gubuk tidak layak huni yang pernah didiaminya.

“Saya merasa terbantu dan sangat bersyukur. Terimakasih Pak Gubernur Kalbar H Sutarmidji yang telah membantu uang semester kuliah saya,” ucapnya.

Rika berjanji bantuan itu akan semakin meningkatkan semangat dan motivasi diriya untuk kuliah secara serius demi mengejar cita-cita masa depan.

“Saya akan memanfaatkan bantuan Pak Gubernur sebaik baiknya,” pungkasnya. (Rizky Prabowo Rahino)

Yuk Follow Akun Instagram tribunpontianak:

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved