Haryadi Sebut Masyarakat Pontianak Keluhkan LPG 3 Kg Langka

Namun saat ini disampaikannya, masyarakat Kota Pontianak kesusahan mendapatkan gas Elpiji 3 kilogram yang bersubsidi.

Haryadi Sebut Masyarakat Pontianak Keluhkan LPG 3 Kg Langka
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ YOUTUBE
Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Saat ini kebutuhan bahan pokok di Kota Pontianak relatif stabil, hanya saja menurut Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo.

Namun saat ini disampaikannya, masyarakat Kota Pontianak kesusahan mendapatkan gas Elpiji 3 kilogram yang bersubsidi.

Padahal setiap bulan disebutnya rata-rata disalurkan di Kota Pontianak medekati 56 ribu tabung LPG, tapi kenyataannya masih banyak ibu rumah tangga yang tidak mendapatkan LPG.

Baca: Menang Telak 9-0 Atas Melanesia, Lady Pegasus Pastikan Langkahnya ke Semifinal

"Saat ini mereka berkeliling mencari dan banyak yang mengeluh dengan kita, karena kesulitan mencari LPG," ucap Haryadi S Triwibowo saat diwawancarai, Kamis (6/12/2018).

Padahal rantai distribusi cukup bagus dari Pertamina. Tapi saat ini Haryadi menegaskan banyak spekulan dari masyarakat biasa yang memanfaatkan situasi.

"Kenapa mereka memanfaatkan harga LPG 3kg subsidi karena pertabung 16 ribu dan dimanfaatkan diperjualkan belikan lagi," tambahnya.

Sesuai instruksi presiden, disebutnya LPG subsidi hanya untuk usaha mikro dan ibu rumah tangga yang tak mampu.

Pemkot Pontianak sudah melakukan upaya mengintervensi LPG subsidi dengan surat edaran wali kota kepada hotel, rumah makan, kafe, loundri dan PNS tidak boleh menggunakannya.

Informasi Pertamina disampaikannya setelah dilakukan operasi dan beredarnya surat edaran wali kota tersebut ternyata hasil analisa Pertamina permintaan bright gas 5,5 kg meningkat.

Artinya sebagian warga, Pontianak sudah beralih dari subsidi ke nonsubsidi. Tapi akhir-akhir ini muncul fenomena baru, bukan lagi hotel, kafe dan sebagainya.

"Tapi pengecer yang dari ibu-ibu rumah tangga melakukan pembelian dipangkalan sampai lima tabung, enam tabung dan besok membeli lagi untuk diperjual-belikan kembali. Kita sedang melakukan penertiban ini, kenapa mereka melakukan itu, saat ditanya tentunya alasan mereka karena ekonomi," tambahnya.

Bahkan pihaknya memiliki wacana menertibkan masyarakat yang membeli LPG dan setelah itu ditandai dengan tinta seperti Pilkada.

dan mungkin ada metode orang membeli LPG gunakan KTP tapi tidak efektif, karena bisa digunakan lagi ditempat lain. Kita mau coba pakai tinta dan kalau mereka sudah membeli harus menggunakan tinta dan ketahuan," ucapnya.

Penulis: Syahroni
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved