Kerushunan Pecah di Penjara, Ratusan Napi Berhasil Kabur

Bentrokan antara berbagai milisi di kota itu, memaksa pemerintah Libya yang didukung PBB, memberlakukan keadaan darurat.

Editor: Jamadin
ISTIMEWA
Pasukan Libya berpatroli sekitar Tripoli kota yang dikuasai tentara pemerintah sementara sebagian besar wilayah dikuasai milisi bersenjata. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kerusuhan pecah di dalam penjara, dan para sipir yang merasa nyawa mereka terancam, tidak dapat mencegah kaburnya para tahanan. Sekitar 400 tahanan meloloskan diri dari sebuah fasilitas penjara tersebut akibat terjadinya bentrokan sengit antara kelompok-kelompok milisi dekat Ibukota Libya, Tripoli. Sejumlah orang dilaporkan meninggal dalam bentrokan itu.

"Para tahanan berhasil menjebol pintu-pintu dan gerbang untuk keluar penjara Ain Zara," kata polisi setempat.

Bentrokan antara berbagai milisi di kota itu, memaksa pemerintah Libya yang didukung PBB, memberlakukan keadaan darurat.

Pada hari Minggu (2/9) itu, kekerasan bersenjata antara berbagai faksi berlangsung di sekitar penjara yang khusus menampung tahanan laki-laki itu.

Baca: Maruf Amin Tetap Pertahankan Pakai Sarung Meski Terpilih jadi Wapres

Banyak dari tahanan di penjara Ain Zara di tenggara Tripoli itu dilaporkan merupakan pendukung mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dan mereka telah dinyatakan bersalah atas berbagai pembunuhan selama terjadinya perlawanan terhadap pemerintahan Gadaffi, pada tahun 2011.

Dalam peristiwa lain, di hari yang sama, dilaporkan dua orang tewas dan beberapa lainnya terluka, ketika roket menghantam sebuah kamp penampungan ratusan pengungsi di Tripoli.

Baca: Presiden Duterte Minta Maaf pada Barack Obama, Permasalahannya Terjadi Tahun 2016

Kementerian Kesehatan Libya melaporkan, dalam bentrokan antar milisi di Tripoli selama seminggu terakhir, sekitar 47 orang tewas, termasuk warga sipil. Sementara, puluhan lainnya terluka.

Pemerintah yang didukung PBB menguasai ibukota, tetapi milisi menduduki sebagian besar wilayah lain negara itu.

Mengapa terjadi kekerasan?

Kekerasan meletus pekan lalu ketika milisi dari sebuah kota di sebelah selatan Tripoli menyerang wilayah selatan, yang berakibat pada meletusnya pertempuran dengan milisi-milisi lokal yang mendukung pemerintah yang diakui secara internasional, Government of National Accord (GNA).

GNA menyebut bentrokan itu adalah "upaya untuk menggagalkan transisi politik yang damai" di negara itu, dan menambahkan bahwa mereka "tidak bisa tinggal diam atas serangan di Tripoli dan sekitarnya, yang merupakan gangguan keamanan di ibukota dan mengancam keselamatan warga negara."

Apa kata komunitas internasional?
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan "penggunaan kekuatan yang sembarangan merupakan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional dan hak asasi manusia" dan mendesak "semua pihak untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan"

Sementara AS, Inggris, Prancis dan Italia, Sabtu lalu, menyerukan semua pihak segera mengakhiri kekerasan yang menelan banyak korban jiwa di ibukota Libya.

Pernyataan bersama mereka mengatakan, upaya "untuk melemahkan otoritas Libya yang sah dan menghambat proses politik yang sedang berlangsung merupakan hal yang tidak dapat diterima".

"Kami menyerukan kelompok-kelompok bersenjata untuk segera menghentikan semua aksi militer dan memperingatkan mereka yang berupaya merusak stabilitas, baik di Tripoli atau wilayah Libya lainnya, bahwa mereka harus mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka," kata pernyataan bersama itu.

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved