Pilpres 2019

Pengamat Sosial Politik: Jokowi vs Prabowo di 2019, Rivalitas yang Semakin Dinamis

Dinamika perpolitikan terkait pemilihan presiden (Pilpres) gaungnya sudah sedemikian besar.

Pengamat Sosial Politik: Jokowi vs Prabowo di 2019, Rivalitas yang Semakin Dinamis
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Pengamat Sosial Politik, Sabran Achyar 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ishak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - April 2019 masih beberapa bulan ke depan. Namun dinamika perpolitikan terkait pemilihan presiden (Pilpres) gaungnya sudah sedemikian besar.

Dipastikannya pencalonan Prabowo dan Jokowi kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden, bahkan seakan membuka rivalitas lama.

Hal inipun menjadi dinamika tersendiri yang dinilai cukup menarik. 

"Pilpres kali ini (sedikit banyak) seperti pengulangan dari Pilpres sebelumnya (2014). Tapi dinamikanya menarik," ujar pengamat sosial politik dan kemasyarakatan Kalbar, M Sabran Achyar, Jumat (10/09/2018).

Baca: Prediksi Manchester United Vs Leicester City: Laga Perdana Liga Inggris Live di RCTI

Ia mengungkapkan, dinamika pencalonan pasangan capres dan cawapres ini akan beri warna sendiri pada Pilpres 2019 nanti. Termasuk di antaranya pertarungan narasi gagasan kebangsaan dan politik identitas.

Pemilihan wakil dari masing-masing kubu setidaknya menunjukkan keunikan dinamika tersebut. Jokowi yang memutuskan merangkul KH Maruf Amin sebagai calon wapres, dengan sendirinya akan 'memenangkan' basis kultural, seperti warga Nahdlatul Ulama dan sebagainya.

Namun strategi kubu Prabowo yang mengusung Sandiaga Salahuddin Uno sebagai wakil juga disebutnya sebagai langkah brilian.

Popularitas pria yang biasa disapa Tum Uno itu akan menjadi magnet meraih pundi suara di kalangan muda dan millenial.

Baca: Dikira Hilang, Keluarga Tak Menyangka LA Ditemukan Tak Bernyawa

Keputusan Jokowi ini menjadi langkah praktis dan taktis dalam mengamalkan perolehan suara akar rumput. Hanya saja, langkah politik Jokowi ini menurutnya bisa saja sedikit banyak akan meningkatkan kesan politik identitas, mengingat patronklein sang calon wakil sebagai sosok ulama panutan di kalangan masyarakat.

Pada situasi ini, keputusan Prabowo memilih Sandiaga Uno cenderung lebih menarik. Sebab, ada dukungan dari kalangan ulama yang berhimpun dalam GNPF sebagai representasi suara politik identitas, tanpa menampilkannya secara vulgar. 

"Dalam konteks ini, kubu Prabowo menurut saya lebih hebat. Dengan perang urat syaraf yang dilakukan selama ini, berhasil memunculkan calon lawan yang bisa dibaca," pungkasnya. 

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help