Komunitas Organik Pontianak Berikan Solusi Atasi Masalah Sampah

Benny Tanhery memberikan solusi terkait penanganan sampah sehingga tak menimbulkan masalah baru.

Penulis: Syahroni | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Tampak beberapa ekor kambing mencari makan di tumpukan sampah yang berada di pasar pagi di Jalan Tanjung Raya I, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (2/1/2017) siang. Sumber makanan bagi ternak yang tidak sehat seperti ini dapat merugikan konsumen yang membeli, terlebih dari segi kesehatan. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Meningkatnya produksi sampah rumah tangga mencapai 500 ton menjelang Hari Raya Idul Fitri menurut satu diantara Komunitas Organik Pontianak, Benny Tanhery memberikan solusi terkait penanganan sampah sehingga tak menimbulkan masalah baru.

"Solusinya sbenarnya sama maupun lebaran atau tidak, yaitu dengan proses pemilahan di sumbernya termasuk di rumah tangga. Jika sampah sudah dipilah minimal menajdi dua yaitu organik dan anorganik, maka sampah menjadi tidak bau dan volume masing-masing berkurang," ucap Benny Tanhery saat diwawancarai, Senin (11/6/2018).

Baca: Jangan Ketinggalan, Perpanjang Registrasi SIM di Polres Landak Diperpanjang, Catat Jadwalnya!

Dengan adanya sistem pemilihan sampah dari rumah tangga, menurutnya dapat memberi rentang pembuangan sampah biasanya tiap hari, bisa menjadk 3-5 hari sekali, tergantung dari jumlah dan intensitas konsumsi rumah tangga masing-masing.

Diharapkan dengan adanya sistem pemilaham sejak dari rumah tangga, pembuangan sampah tidak sekaligus saat lebaran, jadi bisa ditunda pembuangannya ke TPS.

"Kemudian, bagi rumah tangga yg memiliki halaman cukup luas atau memiliki kebun, maka sampah organiknya dapat dimanfaatkan atau bisa dibuang pada kebun saja, itu tidak merusak lingkungan dan bisa jadi pupuk," ucapnya.

Selanjutny bisa juga dibuatkan bak organik, sehingga sampah organik bisa dimasukan terus menerus dalam bak organik tersebut tanpa pengolahan khusus, sampah itu akan menjadi pupuk. Terakhir disebutnya bisa juga buat komposter dengan ukuran sesuai kebutuhan.

"Cara-cara itu setidaknya bisa memperlambat bahkan mengurangi penumpukan akumulasi sampah di TPS," tambah Benny.

Baca: H-4 Lebaran Jalur Transportasi Air di Kecamatan Serawai Mulai Alami Lonjakan

Selanjutnya, yang perlu dilakukan pemerintah adalah bagaimana menerapkan penggunaan TPS Terpilah, optimalisasi TPST dan TPA terpilah serta optimalisai pengembangan bank sampah di masyarakat

Jika pemilahan sudah dilakukan, menurutnha hanya sampah anorganik yang tidak laku saja dibuang ke TPS, sampah anorganik seperti kaleng minuman, plastik botol mineral atau lainnya, yang laku, bisa dijual atau sedekahkan ke bank sampah terdekat.

"Implementasi TPS terpilah belum diterapkan, walau konsep pembedaan warna yang kontainer-kontainer pernah dimural dgn konsep anorganik(kuning) dan organik(hijau) TPST akan ideal jika minimal ada 1 di tiap kecamatan atau kawasan tertentu. Saat ini TPST baru ada satu di Jalan Purnama ujung, tapi belum maksimal teknis pengelolaan," katanya.

Bank Sampah, ditegaskanny perlu dimaksimalkan jumlahnya minimal 1 kelurahan 1 bank sampah, kemudian bank sampah tersebut dibina secara intens, sehingga punya kapasitas terbaik dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan di wilayah masing-masing.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved