Terkena DBD, Supriadi Tak Menyangka Anaknya Akan Meninggal Dunia

Sore periksa darah tapi belum keluar hasil pemeriksaanya. Saya bawa ia ke Rumah Sakit Fatima karena kondisinya semakin melemah.

Penulis: Subandi | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / SUBANDI
Endang Supriadi (kanan) ayah Ramadhani Al-Irham Riadi (11) korban DBD yang meninggal di Ketapang saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (9/4). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Sejak Januari hingga Maret 2018 hanya terdapat 150 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Ketapang. Satu di antaranya terdapat satu anak di Kota Ketapang meninggal dunia. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Rustami.

Korban DBD yang meninggal itu bernama Ramadhani Al-Irham Riadi (11) warga Jl Mulia Keluraran Sampit Kecamatan Delta Pawan. Ayah almarhum, Endang Supriadi menceritakan awal mula anaknya terkena demam, Senin (2/4) malam.

“Jadi, Selasa saya belikan lah parasetamol seperti biasanya. Karena tak turun demamnya saya bawalah ke Dokter Varia dan diberi obat serta surat pengantar untuk periksa darah pada Jumat,” katanya kepada wartawan di rumahnya, Senin (9/4).

(Baca: Sampai Maret 2018, Terdapat 150 Kasus DBD di Ketapang )

Ia mengungkapan ternyata, Kamis (5/4) malam anaknya makin parah. Lantaran ia bimbang sehingga dibawanya berobat ke Dokter Rusdi. Kemudian pada Jumat (6/4) menjelang jadwal pemeriksaan darah anaknya berak (buang-red) kotoran berwarna hitam.

“Sore periksa darah tapi belum keluar hasil pemeriksaanya. Saya bawa ia ke Rumah Sakit Fatima karena kondisinya semakin melemah. Kemudian dimasukkan ke ruang IGD dan dirawat selama empat jam serta setelah diobservasi dimasukan ke ruang ICU,” ucapnya.

Selanjutnya anaknya muntah darah dan harus dirujuk ke rumah sakit di Pontianak. Setelah dipersiapkan segala sesuatunya. Malam itu mereka bawa anaknya menggunakan mobil menuju ke Pelabuhan Telok Batang, Kabupaten Kayong Utara.

“Janji pukul 09.00 WIB pagi berangkat dari pelabuhan itu ke Pontianak menggunakan speed boad. Namun sebelum sampai ternyata anak saya sudah sampai lah. Jadi pukul 09.00 dibawa kembali ke Ketapang,” kenangnya.

(Baca: Jaringan Internet Kurang Baik Ganggu Pelaksanaan UNBK di Kecamatan Kubu )

 Ia menjelaskan anaknya di rujuk ke Pontianak karena anaknya sudah muntah darah. “Ibaratnya darah kita ini kan ada selangnya dan sudah ada yang pecah. Tapi kalau pembuluh darah pecah ini kan bagaimana mau menampalnya,” ujarnya.

“Namun hal itu bisa diakali kalau ada alat untuk pengatur PH darah. Tapi di Ketapang tidak ada alat tersebut. Jadi kita berharap kedepan alat-alat kesehatan seperti itu diadakan, dikelola dan dimanfaatkan secara professional,” lanjutnya.  

Supriadi menambahkan terhadap kejadian ini ia tidak menyalahkan siapa pun. Namun ia menegaskan harus menjadi pelajaran masyarakat bahwa DBD sangat berbahaya. “Semoga kejadian seperti anak saya tidak terjadi lagi pada yang lainnya,” harapnya. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved