Ketika Banjir Dianggap Musibah, Namun Juga Berkah, Berikut Penjelasannya

Jika tidak ada manusia sekalipun banjir akan tetap terjadi, manusia menganggap banjir sebagai bencana karena ada kepentingan yang terganggu di sana.

Ketika Banjir Dianggap Musibah, Namun Juga Berkah, Berikut Penjelasannya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ CLAUDIA LIBERANI
Pengendara motor di depan rusun Mahasiswa Universitas Tanjungpura, Jalan Prof. Hadari Nawawi yang terendam banjir, Jumat (12/1/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Claudia Liberani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Hujan deras yang melanda Kota Pontianak seharian menyebabkan banjir di beberapa titik, Jumat (12/1/2018).

Ketika hujan turun, masyarakat kerap resah karena takut banjir terjadi, padahal menurut dosen Hidrologi Lingkungan Prodi Teknik Lingkungan, Untan, Kiki P. Utomo, banjir merupakan hal yang tidak boleh dihilangkan karena bisa merusak tatanan yang tidak bisa dilihat di awal.

"Dalam lingkungan, banjir itu harus ada karena tanah-tanah subur di tepi sungai hanya mungkin muncul karena ada banjir, ikan-ikan di tengah dan hulu sungai Kapuas hanya bisa berkembang biak karena banjir, artinya jika banjir ditiadakan akan ada kerugian lebih besar di belakang yang tidak bisa kita lihat," jelasnya saat ditemui di ruangannya.

Baca: Banjir Tidak Bisa Dicegah, Ini Solusinya Menurut Dosen Hidrologi Lingkungan Untan

Dia juga menyebut banjir sebagai bencana antropogenik, banjir dianggap bencana oleh manusia dan karena manusia.

Jika tidak ada manusia sekalipun banjir akan tetap terjadi, manusia menganggap banjir sebagai bencana karena ada kepentingan yang terganggu di sana.

"Banjir itu bencana yang diklaim oleh manusia, yang kedua, yang sering menjadi masalah itu banjir yang dipercepat dan diperbesar oleh manusia," ucapnya.

Baca: Ini Kawasan Rawan Genangan Air Hujan, Lihat Foto-fotonya

Berdasarkan penjelasannya banjir pasti akan terulang di suatu tempat, secara berkala, periodik, dalam jangka panjang waktu, air tetap akan meluap.

Biasanya jarak antara satu dengan banjir yang lain relatif tetap tapi ketika ada perubahan di lingkungan kemudian manusia melakukan tindakan yang menyebabkan perubahan seperti di permukaan bumi, maka banjir itu jadi lebih sering, jadi dipercepat siklusnya.

Karena itu, menurutnya banjir tidak bisa dilawan, tapi harus dikelola dan masyarakat harus beradaptasi terutama untuk masyarakat Pontianak di mana Pontianak posisinya di muara dan di hilir serta daerah dengan curah hujan yang tinggi.

Penulis: Claudia Liberani
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help