Pertukaran Jurnalis Indonesia Swiss
[BAGIAN 7 (selesai)] Le Temps Arsipkan Berita 115 Tahun
Dia berupaya menelusuri satu halaman koran arsip hasil scan berita di satu tanggal di tahun 1909, yang dikaitkan dengan kata "Borneo" tersebut.
Penulis: Dian Lestari | Editor: Steven Greatness
TRIBUNPONTIANAK,CO.ID - Bayangkan berapa luas gedung yang diperlukan, untuk menyimpan dan memisahkan satu per satu arsip berita koran yang sudah berusia 115 tahun. Lantas bagaimana pula caranya efektif untuk mencari arsip sebegitu banyak? Teknologi digital adalah jawabannya.
Koran Le Temps di Swiss bekerjasama dengan peneliti di universitas, membuat website yang memungkinkan pembaca bisa mendapatkan arsip berita hanya dalam hitungan beberapa detik.
Hari terakhir kunjungan saya di Swiss, diisi diskusi menarik dengan Gaël Hurlimann, Pemimpin Redaksi Berita Digital Koran Le Temps. Jumat (3/6) pagi dia menemui saya dan Cécile di kantin Radio Télévision Suisse (RTS) di Jenewa. Kami bertiga serius berdiskusi di kantin yang masih sepi pengunjung.
Gaël menceritakan bahwa koran Le Temps terbit sejak tahun 1861. "Wow, itu usia yang tua sekali," kata saya.
Gaël mengangguk lalu berkata,"Iya. Kami punya gedung besar dan alat-alat scan besar untuk mengarsipkan berita-berita di masa lampau hingga hari ini. Satu persatu koran di-scan, lalu dimasukkan ke datanya ke super computer. Selain itu data pdf koran juga di-input."
Komputer merekam hasil scan kertas koran berupa seluruh kata, angka, dan gambar yang pernah dimuat Le Temps. Seluruh data itu diolah dengan program komputer, lantas dihubungkan ke website www.letempsarchives.ch.
Ketika pembaca membuka website tersebut, tepat di muka halaman website tersedia kolom pencarian. Bagi Anda yang hanya menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, jangan khawatir akan kesulitan memahami website berbahasa Prancis ini. Di kolom kanan atas halaman website, tersedia pilihan tiga bahasa lainnya yakni Inggris, Belanda, dan Italia.
"Mari kita coba cari kata Borneo, tempat tinggalmu," kata Gaël, sembari mengetik di keyboard dan memandangi monitor laptop di hadapannya. Dua detik kemudian dia melanjutkan ucapannya.
"Wah, ternyata analisa frekuensi berita menunjukkan tahun 1909, adalah momen tertinggi yang memuat kata 'Borneo'. Ada apa ya di tahun itu?" ujarnya.
Dia berupaya menelusuri satu halaman koran arsip hasil scan berita di satu tanggal di tahun 1909, yang dikaitkan dengan kata "Borneo" tersebut. Ternyata kata "Borneo" yang dimaksud adalah gambar iklan merek rokok kretek. Spontan saya tertawa melihat hasil pencarian, sangat berbeda dari perkiraan sebelumnya.
Saya sempat berpikir, mungkin kata "Borneo" sangat ramai dibicarakan, karena pada tahun itu Eropa sedang berupaya menjajah Indonesia.
Berdasarkan data yang ditunjukkan website, Gaël memperkirakan di masa itu, pemasang iklan sedang gencar-gencarnya mempromosikan rokok kretek "Borneo". Meski tak mencari info lebih lanjut, saya menduga rokok ini diimpor dari Indonesia. Sepertinya kretek dikenal masyarakat Eropa karena mengandung cengkeh.
Michel Bührer, anggota Komisi Editorial EQDA yang pernah berkunjung ke Jakarta, mengaku sangat menyukai aroma khas cengkeh di kretek Indonesia.
Selain menelusuri kata, Gaël mengatakan website pencarian arsip sangat membantu wartawan mendapatkan informasi tentang perjalanan karier tokoh.
"Biasanya wartawan mencari di Google tentang perjalanan karier tokoh. Tapi dengan website ini, proses pencarian bisa lebih cepat dan data yang disajikan berurutan. Akan terlihat si tokoh di tahun berapa menduduki jabatan apa, berdasarkan pemberitaan sejak beberapa tahun sebelumnya hingga kini," ujarnya.