Kabar Artis

Sempat Menyakiti Diri Sendiri, Alasan Aurelie Moeremans Rilis Buku Broken Strings

Melalui buku itu, Aurelie membuka lembaran perjalanan hidupnya yang penuh luka, sekaligus mengungkap proses panjang

Tayang:
INSTAGRAM
ARTIS- Aurelie Moeremans berharap pengalamannya dapat menjadi pengingat sekaligus kekuatan bagi para penyintas lain bahwa mereka tidak sendirian, dan selalu ada jalan untuk keluar dari relasi yang menyakitkan. 

Ringkasan Berita:
  • Sejak buku Broken Strings dirilis, masa lalu Aurelie Moeremans kembali menjadi sorotan. Berbagai pengalaman kelam yang pernah ia alami pun kembali mencuat dan memantik simpati dari banyak pihak. 
  • Melalui kanal YouTube pribadinya, Mrs Aurelie, istri dari Tyler Bigenho itu menceritakan awal mula terciptanya buku Broken Strings.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans belakangan ini menjadi perbincangan hangat di tengah publik. 

Karya tersebut tidak hanya menarik perhatian karena ditulis oleh seorang aktris ternama, tetapi juga karena memuat kisah personal yang mendalam dan emosional. 

Melalui buku itu, Aurelie membuka lembaran perjalanan hidupnya yang penuh luka, sekaligus mengungkap proses panjang yang akhirnya mendorongnya menuangkan cerita tersebut ke dalam tulisan.

Sejak buku Broken Strings dirilis, masa lalu Aurelie Moeremans kembali menjadi sorotan. Berbagai pengalaman kelam yang pernah ia alami pun kembali mencuat dan memantik simpati dari banyak pihak. 

Tak sedikit pembaca yang mengaku tersentuh oleh keberanian Aurelie dalam membagikan kisah traumatis yang selama ini ia pendam.

Melalui kanal YouTube pribadinya, Mrs Aurelie, istri dari Tyler Bigenho itu menceritakan awal mula terciptanya buku Broken Strings.

Roby Tremonti Buka Suara soal Annulment Pernikahan dengan Aurelie Moeremans, Apa Itu?

Ia mengungkap bahwa proses penulisan buku tersebut berawal dari keputusannya untuk menemui seorang hipnoterapis. 

Dalam sesi terapi itu, Aurelie akhirnya menceritakan seluruh trauma yang telah ia simpan selama bertahun-tahun.

Aurelie menjelaskan bahwa peristiwa menyakitkan yang ia alami sebenarnya telah terjadi sekitar 16 tahun lalu. 

Meski waktu telah berlalu cukup lama, dampak emosional dari kejadian tersebut ternyata masih membekas kuat dalam dirinya.

“Kenapa aku nulis buku ini? Karena awalnya aku ke hipnoterapis dan aku cerita ke dia kalau kejadian ini sudah 16 tahun yang lalu. Tapi traumanya masih ada, traumanya tetap ada,” tutur Aurelie.

Ia pun mengakui bahwa ketika trauma tersebut muncul, dirinya kerap meluapkan emosi dengan cara menyakiti diri sendiri. 

Aurelie menyadari bahwa tindakan tersebut menjadi pertanda bahwa ia belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalunya.

“Aku cerita ke terapis aku, kalau setiap kali aku sedih, kadang-kadang aku suka mukulin diri sendiri dan aku merasa aku pantas dapat itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Aurelie mengatakan bahwa di balik semua itu, ia sebenarnya menyadari ada sesuatu yang belum tuntas di dalam hatinya. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa dirinya tidak layak diperlakukan dengan kekerasan, termasuk oleh dirinya sendiri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved