Ramadhan 2026

Healthy Financial dan Jiwa yang Tenang

Ketika tekanan finansial menurun, kualitas kesehatan mental meningkat. Ramadan mengajarkan esensi, bukan simbolisme berlebihan.

Editor: Nasaruddin
ISTIMEWA
Dini Lestary, S.E., M.Ak, Dosen Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Pontianak 

Profesor Michael Norton dari Harvard Business School menemukan bahwa membelanjakan uang untuk orang lain meningkatkan tingkat kebahagiaan lebih besar dibanding membelanjakan untuk diri sendiri.

Ramadan, dengan intensitas sedekah yang meningkat, sejatinya membangun keseimbangan antara kesejahteraan finansial dan kesejahteraan emosional.

Healthy financial di bulan Ramadan bukan berarti menekan pengeluaran secaraekstrem, tetapi mengelolanya secara sadar.

Ada beberapa refleksi sederhana yang bisa dilakukan.

Pertama, menyusun ulang anggaran berbasis nilai.

Apa yang benar-benar dibutuhkan? Apa yang hanya didorong oleh tradisi atau gengsi sosial?

Ramadan mengajarkan esensi, bukan simbolisme berlebihan.

Kedua, memperkuat dana sosial dan dana darurat.

Alih-alih mengalokasikan seluruh tambahan rezeki untuk konsumsi musiman, sebagian dapat diarahkan untuk perlindungan masa depan.

Ketika seseorang memiliki bantalan finansial, tingkat kecemasan hidupnya menurun secara signifikan.

Ketiga, mengelola ekspektasi keluarga.

Banyak tekanan finansial muncul bukan karena kebutuhan riil, tetapi karena standar sosial.

Di sinilah komunikasi keuangan dalam keluarga menjadi penting.

Anak-anak lebih membutuhkan orang tua yang hadir secara emosional daripada orang tua yang terus-menerus stres memikirkan cicilan.

Kadangkala warisan terbaik kepada anak bukan selalu rumah, tanah, atau properti yang illiquid.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved