Ramadhan 2026

Empat Tahun Mengabdi, Kisah Marbot Muda di Masjid Saiful Islam Pontianak

“Awalnya nervous. Baru pertama kerja juga, ketemu banyak orang. Tidak tahu karakter orang macam mana,” ucapnya.

Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Peggy Dania
MARBOT MASJID - Muhammad Ramadhan Shafiq (23) saat diwawancarai di Masjid Saiful Islam Pontianak, Jalan Tabrani Ahmad No.2, Sungai Jawi Dalam, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Rabu 25 Februari 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Sudah empat tahun ia menjalani pekerjaan tersebut, sejak menerima tawaran saat masih berusia 19 tahun dan belum memiliki pekerjaan usai lulus SMA.
  • Kini, Shafiq tak hanya dikenal sebagai marbot muda tetapi juga menjadi tulang punggung keluarga.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Di usia 23 tahun, Muhammad Ramadhan Shafiq memilih tinggal di Masjid Saiful Islam Pontianak dan mengabdikan diri sebagai marbot.

Sudah empat tahun ia menjalani pekerjaan tersebut, sejak menerima tawaran saat masih berusia 19 tahun dan belum memiliki pekerjaan usai lulus SMA.

“Waktu itu saya masih sering main di masjid sini. Yang marbot lama pindah kerja, jadi saya ditawari. Kebetulan juga lagi pengangguran, jadi saya ambil peluang itu,” ujarnya saat diwawancarai di Masjid Saiful Islam Pontianak, Jalan Tabrani Ahmad No.2, Sungai Jawi Dalam, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Rabu 25 Februari 2026.

Kini, Shafiq tak hanya dikenal sebagai marbot muda tetapi juga menjadi tulang punggung keluarga.

Ia merupakan anak pertama dan ibunya bekerja di kawasan yang sama sementara ayahnya sudah lama tidak tinggal bersama.

“Saya memang tanggung orang tua. Jadi selesai SMA langsung cari kerja. Tidak ada pilihan lain,” katanya.

Menjadi marbot di usia muda bukan tanpa tantangan.

BBPOM Pontianak Ingatkan Warga Teliti Cek Tanggal Kedaluwarsa Makanan

Ia mengaku sempat merasa gugup saat pertama kali bekerja.

“Awalnya nervous. Baru pertama kerja juga, ketemu banyak orang. Tidak tahu karakter orang macam mana,” ucapnya.

Butuh waktu hingga dua tahun bagi Shafiq untuk benar-benar terbiasa dengan ritme pekerjaan dan lingkungan masjid.

Sebagai marbot, ia bekerja seorang diri mengurus masjid yang cukup besar.

Mulai dari menjaga kebersihan, menyiapkan perlengkapan salat, hingga membantu berbagai kegiatan masjid.

Tantangan yang paling sering ia hadapi adalah persoalan kebersihan dan kehilangan sandal jamaah.

“Paling sering sandal dicuri. Terus air minum dibuang sembarangan, kena karpet jadi bau,” ungkapnya.

Meski begitu, ia tetap berusaha menjalankan tugas secara profesional meski terkadang mendapat pandangan berbeda karena usianya yang masih muda.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved