Ramadhan 2026

MUTIARA RAMADAN - Meraih Ramadhan yang Berkah: Pelan-Pelan Menuju Taqwa

Ramadhan bukan tentang kuat menahan haus, tetapi tentang hati yang perlahan belajar kembali takut kepada dosa dan rindu kepada kebaikan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
MUTIARA RAMADAN - Prof Dr Ir H Gusti Hardiansyah M.Sc, QAM, IPU. 

Oleh: Prof Dr Ir H Gusti Hardiansyah M.Sc, QAM, IPU
- Ketua ICMI Orwil Kalbar
- Guru Besar Universitas Tanjungpura 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Ramadhan seringkali hadir dengan pesan yang sama setiap tahunnya, namun manusia menyambutnya dengan kesiapan yang berbeda-beda. 

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, Guru Besar Universitas Tanjungpura sekaligus Ketua ICMI Orwil Kalbar, Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah M.Sc, QAM, IPU, mengingatkan bahwa Ramadhan sejatinya adalah jeda untuk menata ulang arah hati.

Menurut Prof. Gusti, ukuran kesuksesan seorang Muslim dalam menjalani bulan suci ini bukanlah seberapa padat agenda ibadahnya, melainkan seberapa besar perubahan karakter yang terjadi.

MUTIARA RAMADAN - Ramadhan Al-Ma’un: Berhenti Menjadi "Pendusta Agama" di Bulan Suci

"Ramadhan bukan tentang kuat menahan haus, tetapi tentang hati yang perlahan belajar kembali takut kepada dosa dan rindu kepada kebaikan," ungkapnya.

Taqwa Sebagai Target, Lapar Hanyalah Sarana

Merujuk pada QS. Al-Baqarah: 183, Prof. Gusti menegaskan bahwa target utama puasa adalah Taqwa. Ia menjelaskan bahwa rasa lapar hanyalah sarana fisik untuk mencapai kondisi spiritual yang lebih tinggi.

"Taqwa itu bertingkat. Ada yang lahir dari rasa takut, kesadaran, hingga cinta. Perjalanan menuju taqwa memerlukan kebersamaan: saling menasihati dan terus memperbaharui niat," jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa iman bersifat fluktuatif, sehingga Ramadhan menjadi "ruang latihan" untuk menjaga stabilitas iman tersebut.

Ironi Spiritual: Menghapus Jarak dengan Al-Qur'an

Salah satu poin krusial yang disoroti Prof. Gusti adalah hubungan manusia modern dengan Al-Qur'an. 

Ia menyebut adanya "ironi spiritual" di mana banyak orang tua mendorong anak-anaknya belajar mengaji, namun mereka sendiri justru berhenti belajar seiring bertambahnya usia.

Beliau memberikan analogi yang menyentuh: “Seseorang yang lama tidak mengendarai kendaraan akan merasa kaku saat mencoba kembali. Begitu pula dengan membaca Al-Qur’an. Kesulitan di awal bukan tanda ketidakmampuan, tapi tanda bahwa hati sedang memulai perjalanan pulang.”

Jihad Melawan Distraksi Digital

Di era saat ini, tantangan terbesar bukan lagi sekadar godaan makanan, melainkan distraksi modern. Gawai dan tontonan yang berlebihan seringkali menggerus waktu yang seharusnya digunakan untuk tilawah dan kontemplasi.

"Ramadhan adalah bulan yang mempermudah kemenangan bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Namun, pengendalian perhatian dari gawai adalah bagian dari jihad pribadi di era digital," tegas Ketua ICMI Kalbar ini.

5 Langkah Nyata Menuju Ramadhan Berkah

Agar bulan suci tidak berlalu sia-sia, Prof. Gusti membagikan lima langkah strategis:

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved