Ramadan 2026

MUTIARA RAMADAN - Ramadhan, Ruang Kantor, dan Ketulusan Bicara Kita

Ia sedang mempertaruhkan modal sosialnya. Baginya, bahasa adalah perisai sekaligus senjata untuk bertahan dalam ranah atau arena persaingan

Penulis: Nasaruddin | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
MUTIARA RAMADAN - Syamsul Kurniawan, Dosen IAIN Pontianak, Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat. 

Puasa bukan hanya soal mengosongkan lambung, tapi juga mengosongkan ego dari kalkulasi laba-rugi dalam hubungan antarmanusia. 

Ia adalah undangan untuk menanggalkan jubah struktural sejenak dan kembali pada keanggunan tutur kata yang baik.

Pentingnya berkata-kata baik bukan sekadar soal sopan santun yang dangkal, melainkan tentang menjaga martabat sesama. 

Sebuah ucapan yang santun dan pantas sering kali jauh lebih berharga daripada bantuan materi yang diberikan dengan sikap yang menyakitkan. 

Jika kita hanya mampu berkomunikasi secara mekanis, kita sedang mengabaikan esensi spiritualitas yang menuntut kita untuk melembutkan hati melalui lisan yang terjaga.

Bersikap cair, mengapa penting?

Kekakuan adalah praktik yang melanggengkan dominasi ketika kehangatan dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas kuasa. 

Namun, seorang pemimpin yang bijak akan menyadari bahwa modal budaya yang paling berharga bukanlah gelar, melainkan kemampuan untuk hadir secara utuh melalui tutur kata yang cair dan kekeluargaan. 

Bersikap cair adalah cara kita mengakui eksistensi manusia lain di luar fungsinya sebagai mesin produksi.

Ia ingin melampaui sekat-sekat protokoler agar kerja bukan lagi menjadi beban, melainkan sebuah kolektivitas yang organik. 

Namun, mengubah habitus tidak semudah membalik telapak tangan karena ia membutuhkan keberanian untuk menjadi rentan. 

Bagi seorang bawahan, bicara cair kepada atasan adalah sebuah risiko sosial, sedangkan bagi atasan, bersikap hangat adalah kerelaan untuk menanggalkan prestise simbolik demi sebuah koneksi yang lebih murni dan penuh ketulusan.

Ramadhan memberikan kita alasan yang sah untuk menjadi lembut. Di bulan ini, ada semacam pemakluman sosial untuk saling memaafkan dan mendekat. 

Inilah saatnya kita berhenti memperlakukan percakapan sebagai pasar gelap kepentingan. 

Bayangkan jika komunikasi di kantor tidak lagi seperti ketukan palu hakim, melainkan seperti gemericik air yang menyegarkan, jujur, dan tanpa pretensi.

Kita butuh habitus baru yang menghargai proses, bukan hanya hasil akhir yang terukur secara ekonomi. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved