Ramadan 2026

MUTIARA RAMADAN - Ramadhan, Ruang Kantor, dan Ketulusan Bicara Kita

Ia sedang mempertaruhkan modal sosialnya. Baginya, bahasa adalah perisai sekaligus senjata untuk bertahan dalam ranah atau arena persaingan

Penulis: Nasaruddin | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
MUTIARA RAMADAN - Syamsul Kurniawan, Dosen IAIN Pontianak, Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat. 

Ringkasan Berita:
  • Habitus ini tanpa sadar telah memenjara lidah kita, sehingga kita berbicara bukan lagi untuk menyapa, melainkan untuk mengamankan posisi.
  • Seorang bawahan tegak berdiri dengan punggung yang dipaksakan lurus sembari memilih kata-kata yang struktural, kering, dan formal.

Oleh: Syamsul Kurniawan 
(Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat)

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Ramadhan, bagi banyak orang, adalah sebuah jeda, sebuah interupsi di tengah kebisingan pasar yang tak pernah tidur. 

Namun, sering kali kita memasuki bulan ini dengan membawa sisa-sisa karat dari hari-hari biasa, yaitu sebuah kecenderungan untuk menghitung segala sesuatu dengan sempoa kepentingan.

Dalam ruang-ruang kantor yang pengap oleh pendingin udara, kita melihat betapa percakapan telah lama mati dan digantikan oleh instruksi. 

Di sana, kita bisa bercermin pada pemikiran Pierre Bourdieu (1977) mengenai habitus, yakni sistem disposisi atau kerangka mental yang kita warisi dari struktur sosial yang kaku. 

Habitus ini tanpa sadar telah memenjara lidah kita, sehingga kita berbicara bukan lagi untuk menyapa, melainkan untuk mengamankan posisi.

Seorang bawahan tegak berdiri dengan punggung yang dipaksakan lurus sembari memilih kata-kata yang struktural, kering, dan formal. 

Ia sedang mempertaruhkan modal sosialnya. Baginya, bahasa adalah perisai sekaligus senjata untuk bertahan dalam ranah atau arena persaingan yang kejam. 

Ia takut jika kata-katanya terlalu cair, maka wibawa atau jarak aman itu akan runtuh.

Namun, seorang atasan, jika ia memiliki kejernihan nurani, sering kali merasakan kesepian di puncak hierarki itu. 

Jadwal Imsakiyah Kabupaten Kubu Raya Ramadan 2026 Versi Pemerintah Lengkap 30 Hari Mulai 19 Februari

Ia mendambakan sesuatu yang lebih dari sekadar laporan yang tertib. 

Ia merindukan komunikasi yang kekeluargaan, yang memiliki darah dan daging, bukan sekadar deretan fonem yang transaksional. 

Di sinilah letak tragedi itu, yakni kedua belah pihak terjebak dalam reproduksi struktur yang mereka benci sendiri.

Interaksi menjadi sekadar pertukaran modal simbolik. Kita tidak lagi saling memandang sebagai manusia, melainkan sebagai fungsi-fungsi yang berjalan. 

Ramadhan seharusnya menjadi momen untuk membongkar habitus yang beku itu. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved