Komunitas Serumpun Berpantun Lahir dari Perjuangan ke UNESCO

Ia menyebut, komunitas ini semakin solid sejak pelaksanaan siaran 16 jam tersebut dan terus berkembang melalui media sosial.

Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
FOTO BERSAMA - Kiri ke kanan: Tuan Guru Agus Muare dan Tan Shah Khumainy serta Ketua Majelis Adat Budaya Melayu, Asosiasi Tradisi Lisan Kalimantan Barat yang juga guru besar sastra lisan Universitas Tanjungpura Prof Dr H Chairil Effendy, serta Nur Iskandar, maestro pantun Kalimantan Barat seusai peluncuran aplikasi Pantunin AI di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat dalam rangka Halal Bi Halal sekaligus HUT ke-29 MABM, Minggu, 19 April 2026. 

Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan dalam mengenalkan pantun kepada generasi muda. 

Hal ini terutama karena luasnya wilayah penutur budaya Melayu, mulai dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam hingga Thailand, Filipina, Singapura bahkan Madagaskar. 

Serta wilayah lain yang belajar bahasa Indonesia karena menjadi pengantar resmi UNESCO dan PBB.

Ke depan, komunitas ini berkomitmen terus mengembangkan pantun sebagai bagian dari budaya yang relevan dengan zaman.

“Pasti ada. Seperti pesan pantun sebagai berikut: Indah lembayung lebat berseri// Janganlah layu kering di taman// Jagalah adat payung negeri// Resam pantun menggiring zaman//,” pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved