Sejarawan Ungkap Sejarah Feri Bardan–Siantan, Berawal dari Pelampung Bambu Sejak 1932

Pada masa setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, pengembangan penyeberangan kembali digagas oleh Wali Kota perempuan pertama Pontianak

Tayang:
Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
BERI TANGGAPAN - Budayawan Sekaligus Sejarawan Kalbar Syafaruddin Daeng Usman saat diwawancarai di rumahnya Jalan Tanjungpura, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Selasa 31 Maret 2026. 

Memasuki tahun 1970-an, pembenahan kembali dilakukan terhadap sistem penyeberangan termasuk penggantian armada serta penataan sistem operasional.

“Mulai ada pengaturan, satu kapal menyeberang dan satu merapat. Itu mulai tertata,” tambahnya.

Menurutnya, keberadaan penyeberangan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi tetapi juga memiliki nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Di masa lalu, aktivitas penyeberangan bahkan menjadi ruang interaksi sosial hingga tempat masyarakat mencari penghidupan.

“Dulu banyak pedagang yang berjualan di pelampung, dari makanan sampai kebutuhan lainnya. Ini benar-benar menghidupi masyarakat,” tuturnya.

Ia menyebut, sejak awal kemunculannya hingga saat ini, penyeberangan Bardan–Siantan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Pontianak.

Bahkan, jika suatu saat layanan tersebut tidak lagi beroperasi, maka keberadaannya akan menjadi bagian dari sejarah dan kenangan bagi masyarakat.

“Kalau suatu saat tidak ada lagi, ini akan jadi kenangan. Karena dari dulu sampai sekarang, perannya sangat besar,” pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved