Photovoice Angkat Kisah Warga Hadapi Banjir Rob di Pontianak

Kisah warga Kota Pontianak yang selama ini beradaptasi dengan banjir rob dihadirkan dalam program Photovoice

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Chris Hamonangan Pery Pardede
YAYASAN KOLASE - Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal saat dalam program Photovoice yang diselenggarakan Yayasan Kolase di Rumah Budaya Gang Hj Salmah, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, pada Kamis, 15 Januari 2026. Ia mengatakan Photovoice merupakan pendekatan partisipatif yang menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam menceritakan realitas hidup mereka, bukan sekadar sumber data. 

Ringkasan Berita:
  • Melalui program ini, warga diajak mendokumentasikan pengalaman mereka menghadapi banjir sekaligus membangun ruang diskusi agar persoalan tersebut dapat dipahami secara lebih utuh dan dijadikan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan publik.
  • Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal, mengatakan Photovoice merupakan pendekatan partisipatif yang menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam menceritakan realitas hidup mereka, bukan sekadar sumber data.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kisah warga Kota Pontianak yang selama ini beradaptasi dengan banjir rob dihadirkan dalam program Photovoice yang diselenggarakan Yayasan Kolase di Rumah Budaya Gang Hj Salmah, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, pada Kamis, 15 Januari 2026.

Melalui program ini, warga diajak mendokumentasikan pengalaman mereka menghadapi banjir sekaligus membangun ruang diskusi agar persoalan tersebut dapat dipahami secara lebih utuh dan dijadikan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan publik.

Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal, mengatakan Photovoice merupakan pendekatan partisipatif yang menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam menceritakan realitas hidup mereka, bukan sekadar sumber data.

"Warga diberi kesempatan untuk merekam kondisi yang mereka alami melalui foto, lalu menyampaikan maknanya berdasarkan sudut pandang dan pengalaman masing-masing," ujar Andi.

Ia menilai cara ini penting untuk menghadirkan perspektif kemanusiaan dalam isu kebencanaan yang selama ini kerap disederhanakan menjadi angka dan laporan teknis.

"Di balik setiap foto ada cerita tentang bagaimana warga bertahan, beradaptasi, dan menghadapi dampak banjir dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Program Photovoice Banjir Pontianak merupakan bagian dari mandat FinCAPES dan telah berjalan sejak Oktober 2025. 

Sebanyak 30 warga dilibatkan sebagai fotografer partisipatif di delapan kawasan rawan banjir yang tersebar di 21 kelurahan.

Penentuan lokasi merujuk pada kajian FinCAPES Project bersama Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, yang menunjukkan tingginya tingkat kerentanan Pontianak terhadap banjir akibat kondisi alam dan tekanan pembangunan.

Baca juga: DPRD Pontianak Kawal Ketat Program 2026, Rapat Kerja Marathon dengan OPD

"Secara geografis, Pontianak berada di wilayah dataran rendah dengan tanah rawa gambut pesisir. Ketika pembangunan terus berkembang dan area resapan menyusut, risiko banjir menjadi semakin besar," jelas Andi.

Ia juga mengingatkan peristiwa banjir besar yang terjadi pada 8-9 Desember 2025 sebagai tanda peringatan. 

Saat itu, tinggi muka air laut mencapai sekitar 1,9 meter dan genangan air masuk hingga ke kolong Rumah Budaya.

"Kejadian tersebut menunjukkan bahwa banjir tidak lagi bisa dianggap sebagai peristiwa musiman biasa," ujarnya.

Diseminasi Photovoice Banjir Pontianak dikemas melalui berbagai kegiatan, mulai dari sesi refleksi bersama, pameran karya fotografi warga, hingga publikasi dalam bentuk podcast. 

Pameran dirancang sebagai ruang dialog antara warga, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved