BBM di Batu Ampar Langka, Warga Hendak Melahirkan Harus Charter Rp 3 Juta

Menurutnya, kelangkaan BBM terjadi sejak Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) atau depo Pertamina terapung di Batu Ampar berhenti beroperasi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ferlianus Tedi Yahya
BERI PENJELASAN - Camat Batu Ampar, Alfian saat diwawancarai di Pelabuhan Rasau Jaya, Selasa 17 Maret 2026. Ungkapkan keluhan warganya yang kesulitan BBM hingga berdampak kepada dunia kesehatan. 
Ringkasan Berita:
  • Hal itu disampaikan oleh Camat Batu Ampar, Alfian, di mana salah seorang warganya hendak melahirkan dan terpaksa menyewa transportasi air darurat hingga Rp3 juta akibat sulitnya mendapatkan BBM.
  • Alfian menyebut, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa krisis BBM di wilayah pesisir kini telah berdampak luas dan mendesak untuk segera ditangani oleh pemerintah.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi mulai mengalami kelangkaan di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, akhir-akhir ini.

Hal itu menyebabkan tarif transportasi air meningkat dan berdampak kepada sektor kesehatan.

Hal itu disampaikan oleh Camat Batu Ampar, Alfian, di mana salah seorang warganya hendak melahirkan dan terpaksa menyewa transportasi air darurat hingga Rp3 juta akibat sulitnya mendapatkan BBM.

"Persoalan ini tentu berdampak terhadap dunia kesehatan, katanya saat diwawancarai di Pelabuhan Rasau Jaya, Selasa 17 Maret 2026.

Alfian menyebut, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa krisis BBM di wilayah pesisir kini telah berdampak luas dan mendesak untuk segera ditangani oleh pemerintah.

Oknum Kapal Kelotok di Kubu Raya Diduga Buang Sampah ke Sungai Bisa Dipidana, Ini Aturannya

“Kemarin ada ibu-ibu mau melahirkan, akhirnya tidak bisa diangkut karena BBM tidak ada. Terpaksa charter tengah malam, biayanya lebih dari Rp3 juta," jelasnya.

Menurutnya, kelangkaan BBM terjadi sejak Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) atau depo Pertamina terapung di Batu Ampar berhenti beroperasi sejak, Sabtu (14 Maret 2026) lalu. 

Ia memastikan bahwa wilayah tersebut sangat bergantung pada distribusi BBM jalur perairan untuk 15 desa.

Di sisi lain, ia juga menjelaskan bahwa harga eceran sudah melonjak hingga Rp22 ribu per liter.

“Kita sekarang darurat BBM. Barangnya langka, bukan hanya mahal tapi memang tidak ada,” ungkapnya.

Kelangkaan BBM ini pun memicu kenaikan tarif angkutan air yang menjadi satu-satunya jalur warga pesisir. 

“Kenaikan ini pasti terjadi karena operator kesulitan BBM. Kalau tidak segera ada solusi, motor air juga akan naik tarifnya,” pungkasnya.

Untuk itu, dirinya berharap agar pemerintah daerah, Pertamina, dan aparat dapat duduk bersama mencari solusi mengenai permasalahan tersebut. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved