Ragam Contoh

Bediding Kembali Melanda Indonesia, Suhu Udara Bisa Turun hingga Belasan Derajat

suhu udara turun lebih cepat dan membuat udara terasa jauh lebih dingin, terutama di wilayah pegunungan dan dataran tinggi.

Tayang:
TRIBUN PONTIANAK/ISTIMEWA/pexels/brett sayles
CUACA- Fenomena ini lazim terjadi di sejumlah wilayah seperti Pulau Jawa, Bali, hingga kawasan Nusa Tenggara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut bediding berkaitan erat dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau, terutama karena minimnya awan dan rendahnya kelembapan udara. 

Ringkasan Berita:
  • Masyarakat di berbagai daerah umumnya mulai merasakan hawa dingin yang lebih kuat, terutama ketika memasuki tengah malam hingga menjelang matahari terbit. 
  • Kondisi ini menjadi fenomena tahunan yang sering terjadi di Indonesia saat musim kemarau mencapai puncaknya.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Sejumlah daerah di Indonesia mulai merasakan suhu udara yang lebih dingin dibandingkan biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari. 

Bahkan di beberapa wilayah dataran tinggi, suhu udara dilaporkan turun hingga mencapai belasan derajat Celsius dan membuat udara terasa lebih menusuk.

Fenomena cuaca ini dikenal masyarakat dengan istilah bediding atau bedhidhing. Istilah tersebut berasal dari Bahasa Jawa yang menggambarkan kondisi udara dingin yang muncul saat musim kemarau berlangsung.

Masyarakat di berbagai daerah umumnya mulai merasakan hawa dingin yang lebih kuat, terutama ketika memasuki tengah malam hingga menjelang matahari terbit. 

Kondisi ini menjadi fenomena tahunan yang sering terjadi di Indonesia saat musim kemarau mencapai puncaknya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bediding merupakan masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau yang ditandai dengan udara terasa lebih dingin dari biasanya.

Fenomena ini lazim terjadi di sejumlah wilayah seperti Pulau Jawa, Bali, hingga kawasan Nusa Tenggara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut bediding berkaitan erat dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau, terutama karena minimnya awan dan rendahnya kelembapan udara.

7 Fakta Pernikahan Dua Lipa dan Callum Turner yang Jadi Sorotan Dunia

Saat langit cerah tanpa banyak tutupan awan, panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. 

Akibatnya, suhu udara turun lebih cepat dan membuat udara terasa jauh lebih dingin, terutama di wilayah pegunungan dan dataran tinggi.

Kapan Fenomena Bediding Terjadi pada 2026?

Berdasarkan prediksi musim kemarau 2026 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, proses masuknya musim kemarau berlangsung secara bertahap sejak Mei 2026.

Pada Mei 2026, sekitar 184 Zona Musim atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau. 

Wilayah tersebut meliputi Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, sebagian Riau, sebagian besar Pulau Jawa, hingga sebagian Papua Selatan.

Memasuki Juni 2026, jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau kembali bertambah menjadi 163 Zona Musim. Sementara sekitar 63 Zona Musim lainnya diperkirakan mulai memasuki kemarau pada Juli 2026.

Puncak musim kemarau sendiri diprediksi mulai terjadi sejak Juli dan semakin meluas pada Agustus 2026. 

Pada periode inilah fenomena bediding biasanya terasa paling kuat, terutama pada malam hari hingga dini hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved