Ragam Contoh

Apa Itu Lipstick Effect? Fenomena Mal dan Kafe Tetap Ramai Saat Ekonomi Sulit

masyarakat bukan berhenti berbelanja sepenuhnya, melainkan mengalihkan pola konsumsi mereka ke sesuatu yang lebih murah

Tayang:
KOLASE TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
LIPSTIK TREN- Istilah lipstick effect mulai populer setelah Leonard Lauder, pewaris perusahaan kosmetik Estée Lauder, mengamati peningkatan penjualan lipstik pasca tragedi Serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. 

Ringkasan Berita:
  1. Istilah lipstick effect merujuk pada kecenderungan masyarakat untuk tetap membeli barang-barang kecil yang memberikan rasa senang atau kepuasan emosional saat kondisi ekonomi sedang sulit. 
  2. Meski pengeluaran besar mulai ditekan, konsumsi terhadap barang kecil yang dianggap sebagai “hadiah untuk diri sendiri” justru tetap bertahan, bahkan bisa meningkat.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Fenomena lipstick effect belakangan ramai menjadi perbincangan di media sosial seiring kondisi ekonomi yang dinilai semakin menekan daya beli masyarakat. 

Di tengah nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan berbagai keluhan soal ekonomi, pusat perbelanjaan, restoran, hingga kedai kopi justru masih dipadati pengunjung.

Perbincangan ini mencuat setelah salah satu unggahan di media sosial X menjadi viral. 

Dalam unggahan tersebut, seorang pengguna mempertanyakan kondisi mal yang tetap ramai meski situasi ekonomi dianggap sedang tidak baik-baik saja.

“Mall masih penuh, antrean kopi panjang, restoran juga ramai. Padahal rupiah lagi lemah dan ekonomi terasa makin berat,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu kemudian memicu diskusi luas di kalangan warganet. Banyak yang menilai kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena yang dikenal sebagai lipstick effect.

Wajib Tahu! 5 Makanan Kaya Magnesium untuk Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Bugar

Apa Itu Lipstick Effect?

Istilah lipstick effect merujuk pada kecenderungan masyarakat untuk tetap membeli barang-barang kecil yang memberikan rasa senang atau kepuasan emosional saat kondisi ekonomi sedang sulit. 

Meski pengeluaran besar mulai ditekan, konsumsi terhadap barang kecil yang dianggap sebagai “hadiah untuk diri sendiri” justru tetap bertahan, bahkan bisa meningkat.

Fenomena ini banyak terlihat pada pembelian produk seperti kosmetik, parfum, kopi kekinian, makanan restoran, hingga berbagai bentuk hiburan sederhana yang masih dianggap terjangkau oleh masyarakat.

Sebaliknya, pengeluaran besar seperti membeli rumah, kendaraan, atau investasi jangka panjang cenderung ditunda karena masyarakat merasa lebih berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat bukan berhenti berbelanja sepenuhnya, melainkan mengalihkan pola konsumsi mereka ke sesuatu yang lebih murah namun tetap mampu memberikan rasa nyaman dan kesenangan.

Berawal dari Penjualan Lipstik Saat Krisis

Istilah lipstick effect mulai populer setelah Leonard Lauder, pewaris perusahaan kosmetik Estée Lauder, mengamati peningkatan penjualan lipstik pasca tragedi Serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Saat itu, ekonomi Amerika mengalami tekanan dan ketidakpastian, namun penjualan produk kosmetik justru mengalami kenaikan. 

Menurut Lauder, masyarakat cenderung tetap membeli barang kecil seperti lipstik karena lebih terjangkau dibandingkan membeli barang mewah lain.

Fenomena serupa kembali terlihat saat krisis keuangan global 2008. Kondisi tersebut semakin memperkuat anggapan bahwa pola konsumsi seperti ini sering muncul ketika ekonomi sedang melemah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved