Setiap Tahun Daratan Hilang 4 Meter, Warga Pesisir Sambas Hidup dalam Ketakutan

Kondisi ini membuat bibir pantai semakin dekat dengan permukiman warga, mengancam tempat tinggal dan mata pencaharian.

Tayang:
Penulis: Imam Maksum | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Imam Maksum
CERITAKAN ABRASI - Erna dan tetangganya bercerita tentang abrasi yang mengikis pantai Dusun Tanjung Tembelan Desa Arung Parak, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, kemarin. Kondisi ini membuat bibir pantai semakin dekat dengan permukiman warga, mengancam tempat tinggal dan mata pencaharian. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Dusun Tanjung Tembelan, Desa Arung Parak, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, terus menghadapi ancaman abrasi pantai yang mengikis daratan setiap tahun. 
  • Abrasi yang diperkirakan mencapai sekitar 4 meter per tahun membuat garis pantai semakin mendekati permukiman warga, sehingga menimbulkan kekhawatiran terutama saat musim gelombang tinggi pasang laut.
  • Nelayan setempat, Aliudin, mengungkapkan bahwa warga berharap segera dibangun bangunan penahan abrasi untuk melindungi kawasan pesisir

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS -  Dusun Tanjung Tembelan di Sambas, seperti wilayah pesisir lain di Kabupaten Sambas (misalnya Paloh dan Jawai), menghadapi ancaman abrasi pantai yang terus mengikis daratan setiap tahunnya.

Kondisi ini membuat bibir pantai semakin dekat dengan permukiman warga, mengancam tempat tinggal dan mata pencaharian.

Seorang nelayan, Aliudin (40) tampak sibuk memperbaiki pukat di depan rumah. Warga Dusun Tanjung Tembelan, Desa Arung Parak, Kecamatan Tangaran itu sudah puluhan tahun menjadi pelaut.

Siang itu, Sabtu 6 Juni 2026, Aliudin tengah beristirahat sambil duduk di teras rumah. Ia tidak sekadar istirahat, laki-laki kepala empat itu menyulam kembali jaring yang rusak.

Sementara istri Aliudin juga tampak sibuk di halaman rumah sedang mengupas kulit kelapa. Ia ditemani seorang putrinya.

Abrasi Pantai Arung Parak Capai 20 Meter per Tahun, Sambas Minta Dukungan Pemerintah Pusat

Jarak rumah Aliudin dengan pantai sekitar 50 meter. Di sekeliling rumah banyak tumbuh pohon kelapa. 

Di tengah aktivitas itu, Aliudin menceritakan kembali bahwa keluarganya kerap dirundung keresahan ketika musim pasang air laut tinggi.

Aliudin mengungkapkan, abrasi pantai terjadi setiap tahun menggerus bibir pantai Dusun Tanjung Tembelan, Desa Arung Parak. Menurut dia, abrasi paling sedikit memakan 4 meter daratan setiap tahun.

"Abrasi pantai ini paling sedikit itu empat meter tiap tahun," ucap Aliudin.

Ia mengatakan, dirinya berharap kubus penahan ombak segera dibangun di Dusun Tanjung Tembelan. Menurut dia warga sudah lama khawatir ketika musim gelombang dan pasang laut.

Dia menyebut, setiap malam warga yang tinggal di pesisir dusun itu kerap ketakutan bila siklus pasang laut tiba.

"Kalau biasa bangunan penahan abrasi bisa lanjut, kami khawatir tidur saat malam-malam," ucapnya. Apalagi ketika musim gelombang tinggi, kata dia, ketakutan warga semakin bertambah.

"Gelombangnya bukan main, hampir tiap malam pun gelombangnya kuat," ucapnya.

Dia mengatakan, siklus gelombang tinggi terjadi pada Januari hingga Maret. Tahun ini, gelombang tinggi terjadi Februari lalu.

"Mulai dari bulan satu sampai bulan tiga, bulan dua itulah yang paling besar," katanya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved