Dinkes Sekadau Prioritaskan Pencegahan DBD, Fogging Tak Lagi Jadi Andalan Utama

Dinkes Sekadau kini lebih menitikberatkan pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan rutin membersihkan lingkungan, edukasi kesehatan

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN PONTIANAK/ISTIMEWA
DINKES- Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PP dan KB) Kabupaten Sekadau, Henry Alpius, saat diwawancarai terkait penanganan dan upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sekadau, pada Senin, 19 Mei 2026. Dinkes PP dan KB Kabupaten Sekadau kini mengubah pola penanganan DBD dengan lebih memprioritaskan langkah pencegahan dibanding hanya mengandalkan fogging. 

Ringkasan Berita:
  • Selain edukasi kesehatan, Dinkes Sekadau juga menggencarkan program Desa Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) untuk mendorong terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat.
  • Henry menyebut, kondisi lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap munculnya berbagai penyakit menular, termasuk DBD.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PP dan KB) Kabupaten Sekadau kini mengubah pola penanganan Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan lebih memprioritaskan langkah pencegahan dibanding hanya mengandalkan fogging.

Kepala Dinkes PP dan KB Kabupaten Sekadau, Henry Alpius mengatakan, perubahan pendekatan tersebut dilakukan karena fogging dinilai tidak sepenuhnya menyelesaikan sumber persoalan penyebaran DBD.

"Kalau dulu mindset-nya ketika ada kasus langsung fogging. Sekarang kita ubah lebih ke pencegahan," ujar Henry saat dikonfirmasi pada Selasa, 19 Mei 2026.

Menurutnya, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik dan telur nyamuk masih dapat berkembang apabila lingkungan masyarakat tidak dijaga kebersihannya. 

Karena itu, Dinkes Sekadau kini lebih menitikberatkan pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan rutin membersihkan lingkungan, edukasi kesehatan hingga pemberian larvasida atau abate pada tempat penampungan air.

Dukung Hasil LCC 4 Pilar, Plt Kadisdikbud Kalbar Apresiasi Sikap Elegan Para Peserta

Henry menjelaskan, upaya promotif dan preventif tersebut dilakukan secara berkelanjutan oleh petugas program di puskesmas yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di tengah masyarakat.

"Kegiatan promotif dan preventif itu terus kita lakukan melalui teman-teman program di puskesmas sambil memberikan pelayanan kesehatan dan sosialisasi kepada masyarakat," katanya.

Selain edukasi kesehatan, Dinkes Sekadau juga menggencarkan program Desa Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) untuk mendorong terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat.

Henry menyebut, kondisi lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap munculnya berbagai penyakit menular, termasuk DBD.

"Penanganan penyakit termasuk demam berdarah ini memang berkaitan dengan lingkungan yang bersih dan sehat," jelasnya.

Dalam pengendalian DBD, Dinkes Sekadau turut melibatkan lintas sektor mulai dari pemerintah desa, kecamatan hingga lingkungan perkantoran untuk aktif melakukan gotong royong membersihkan lingkungan.

Menurut Henry, keterlibatan seluruh elemen masyarakat sangat penting karena pemberantasan sarang nyamuk tidak bisa hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan. 

"Kita melibatkan desa, kantor camat sampai lingkungan kantor untuk rutin gotong royong membersihkan lingkungan. Ini salah satu cara pemberantasan penyakit menular termasuk DBD," ucapnya.

Selain kegiatan gotong royong, petugas kesehatan juga membagikan abate kepada masyarakat untuk ditempatkan di wadah penampungan air terbuka agar telur dan jentik nyamuk tidak berkembang.

"Kalau masih ada tempat penampungan air yang terbuka, kita sarankan diberikan abate supaya jentik nyamuk tidak berkembang," tuturnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved