Meski APBD Terpangkas, Pemkab Landak Serius Dukung Ketahanan Pangan

Bupati Landak Karolin Margret Natasa, mengatakan sektor pertanian tetap menjadi prioritas pemerintah daerah

Penulis: Alfon Pardosi | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ALFON
WAWANCARA - Bupati Landak Karolin Margret Natasa. 
Ringkasan Berita:
  • Ia menyebutkan Kabupaten Landak mencatat luas tanam jagung mencapai 5.485,2 hektare pada 2024. Pada 2025, luas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 8.135,7 hektare.
  • Artinya, terdapat tambahan sekitar 3.000 hektare lahan tanam yang harus dikejar dalam waktu satu tahun melalui kerja sama lintas sektor.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Bupati Landak Karolin Margret Natasa, mengatakan sektor pertanian tetap menjadi prioritas pemerintah daerah, terutama dalam upaya meningkatkan produksi jagung sebagai salah satu komoditas pangan strategis.

Ia menyebutkan Kabupaten Landak mencatat luas tanam jagung mencapai 5.485,2 hektare pada 2024. Pada 2025, luas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 8.135,7 hektare.

Artinya, terdapat tambahan sekitar 3.000 hektare lahan tanam yang harus dikejar dalam waktu satu tahun melalui kerja sama lintas sektor.

"Kalau target itu bisa kita capai, maka kontribusi Landak terhadap penguatan pangan di Kalimantan Barat akan jauh lebih besar. Ini yang sedang kita dorong bersama,” ujar Karolin pada Senin 9 Maret 2026.

Menurut dia, program peningkatan luas tanam jagung tetap berjalan meskipun pemerintah daerah mengalami pengurangan anggaran yang cukup signifikan.

Dari total APBD Kabupaten Landak sekitar Rp1,2 triliun, daerah tersebut mengalami pemotongan anggaran hingga Rp240 miliar.

“Kita memang menghadapi keterbatasan anggaran, tetapi urusan pangan tidak boleh berhenti. Justru di tengah situasi seperti ini, sektor pertanian harus tetap menjadi perhatian utama,” katanya.

Baca juga: Koramil 1210-06/ Ngabang Jual Beras SPHP di Depan Gedung KDMP

Sebagai bagian dari upaya mendorong perluasan areal tanam, pemerintah daerah juga berencana melaksanakan tanam perdana jagung dalam bulan ini untuk melengkapi demplot yang sudah ada.

Karolin menegaskan langkah tersebut dilakukan agar gerakan perluasan tanam tidak hanya berhenti pada agenda simbolik, tetapi benar-benar berlanjut di lapangan.

Menurutnya, keberhasilan program peningkatan produksi jagung juga bergantung pada kolaborasi berbagai pihak, mulai dari aparat pemerintah, kelompok tani, pelaku usaha, hingga dukungan pemerintah provinsi dan pusat.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus terlibat. Kuncinya ada pada kolaborasi dan pengawalan yang serius agar program ini benar-benar berjalan,” tutup Karolin. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved