Ayu Gintari: Perempuan Muda di Garda Terdepan Demokrasi Singkawang

Ia mendaftar di usia 39 tahun, usia minimal untuk menjadi anggota KPU. Ia kerap mendapat keraguan dari sekitar soal kemampuannya.

Tayang:
Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
PROFIL - Ayu Gintari, Perempuan muda asal Singkawang yang secara aktif mengedukasi masyarakat tentang demokrasi, Jumat 1 Agustus 2025. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ayu Gintari, perempuan kelahiran Singkawang 23 Juni 1992, saat ini menjabat sebagai Komisioner KPU Kota singkawang sebagai Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM. Dengan latar belakang pendidikan Magister Pendidikan Sosiologi, kini ia tengah melanjutkan studi S3 di UIN Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan. 

“Saya memang pendidikan sosiologi namun lingkupnya luas, kita tidak hanya belajar pendidikan namun belajar sosiologi. Nah di KPU dan Bawaslu diperlukan ilmu itu. Ketika berbicara sosialisasi kita harus bertemu orang banyak. Ilmu itulah yang kita perlukan," katanya, Jumat 1 Agustus 2025.

Menurutnya ilmu sosiologi dan pendidikan pemilih sangat erat kaitannya, dimana sebagai seorang pendidik bisa mendidik seluruh masyarakat agar bisa menjadi pemilih yang cerdas. 

Sebelum bergabung di KPU, Ayu pernah aktif di dunia literasi, membangun usaha percetakan dan event organizer, serta sempat bergabung di Enumator Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Repbulik Indonesia dan menjadi Panwascam.

Baginya, jalan menuju KPU bukan kebetulan tapi rangkaian pengalaman yang memperkaya perspektifnya sebagai penyelenggara pemilu.

Menjadi perempuan muda di lembaga yang masih didominasi laki-laki, Ayu mengakui banyak tantangan yang dihadapi.

Ia mendaftar di usia 39 tahun, usia minimal untuk menjadi anggota KPU. Ia kerap mendapat keraguan dari sekitar soal kemampuannya.

“Mampu tidak  mengemban amanah sebesar ini, masih muda perempuan. Apalagi kita banyak turun ke masyarakat, bagaimana menghadapi tantangan di masyarakat. Karena KPU ini rentan terhadap orang yang tidak senang dan tidak percaya," ujarnya.

BPS Catat Hunian Hotel Berbintang di Kalbar Turun per Juni 2025

Ia juga menyoroti peran ganda yang diemban perempuan. Meski belum berkeluarga, ia tetap merasakan bagaimana harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Ia mengaku orang tuanya sampai merasa rindu karena padatnya agenda tahapan pemilu.

Ayu prihatin karena keterlibatan perempuan dalam demokrasi di tingkat lokal khususnya di Singkawang masih minim.

“Saya melihat di Kalbar khususnya di Singkawang itu masih kurang. Perempuan masih enggan untuk turut karena sudah lelah. Sebenarnya mereka punya kapasitas untuk menjaga demokrasi, kita tidak kekurangan perempuan berkualitas tapi sudah lelah dulu, lelah mengurus anak, di dapur. Jadi tidak ada waktu untuk itu," katanya.

Ia juga mengingatkan agar perempuan tidak menjadi penyebar hoaks terutama lewat grup-grup digital.

“Jangan sampai kita jadi pemicu konflik. Dalam artian, mereka bisa saja menyebarkan isu-isu hoaks. Apalagi perempuan sering ada grup, share saja hal-hal yang hoaks itu sudah percaya semuanya," tambahnya. 

Menurut Ayu, perempuan bisa saja lebih aktif dan kritis terhadap isu demokrasi namun, tidak ada wadah yang bisa untuk membantu mereka bersuara. 

Sebagai perempuan yang juga sedang menempuh pendidikan S3, Ayu belajar membagi waktu dengan cermat. Ia kuliah secara hybrid memanfaatkan akhir pekan untuk belajar sementara hari kerja tetap menjalankan tugas di KPU.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved