Kepala Dinas Kesehatan Sanggau Sampaikan Langkah-langkah Pencegahan Rabies
"Tidak boleh dianggap sepele, karena bisa mematikan. Jadi virus rabies ini bisa masuk sampai ke susunan sistem saraf pusat, seperti otak dan sum-sum t
Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau Ginting menyampaikan bahwa saat ini terjadi peningkatan kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di Kabupaten Sanggau. Dari Januari hingga Mei 2025, tercatat 1.053 kasus GHPR. Jika dibandingkan dengan tahun 2024 lalu, dari Januari sampai Mei itu jumlahnya 566 GHPR.
"Jadi kalau kalau kita hitung ini ada peningkatan kasus gigitan sekitar 53 persen. Kemudian, terjadi juga peningkatan kasus yang meninggal dunia. Tahun 2024 yang meninggal dunia periode Januari sampai Mei itu sebanyak 1 kasus. Sementara tahun ini sampai Mei yang meninggal 4 kasus,"katanya, Selasa 27 Mei 2025.
Jika dipersenkan dengan jumlah gigitan, maka tahun lalu itu persentasi kematian dari kasus gigitan 0,17 persen, tahun ini 0,37 persen. Jadi ada juga peningkatan kasus gigitan sebanyak 0,2 persen dari jumlah gigitan dengan periode yang sama.
Terkait pencegahan dan penanganannya, pihaknya selalu melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat. Untuk pencegahan, disampaikan kepada masyarakat bahwa penyakit rabies ini sangat berbahaya.
"Tidak boleh dianggap sepele, karena bisa mematikan. Jadi virus rabies ini bisa masuk sampai ke susunan sistem saraf pusat, seperti otak dan sum-sum tulang belakang. Itu yang menyebabkan kefatalan dari kasus ini," jelasnya.
Selain itu, penyakit rabies ini masuknya melalui air liur hewan yang terinfeksi melalui gigitan, cakaran, bahkan bisa melalui jilatan jika yang dijilat itu adalah luka yang terbuka.
• Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena Resmikan Gereja St Mikhael Agung Paroki Mater Dei Penyelimau
"Jadi dari air liur hewan GHPR itu masuk ke pembuluh darah melalui sistem saraf teriter bisa sampai susunan saraf pusat. Seiring dengan waktu, lama kelamaan masuk ke susunan saraf pusat. Pada saat mulai timbul gejala dan bisa menyebabkan kefatalan," ujarnya.
Gejala yang muncul, biasanya adalah pertama demam, pasien merasa capek dan gejala ini berkembang menjadi gejala-gejala yang bersifat mengganggu saraf.
"Bisa halusinasi, kecemasan, sulit menelan. Itu biasanya menyebabkan kefatalan," tegasnya.
Untuk itu, perlu penanganan dan pencegahan yang diketahui oleh masyarakat. Untuk pencegahannya Pemda Sanggau melalui Dinkes Sanggau dan lintas sektor terkait, juga melakukan empat hal.
Pertama adalah edukasi secara terus menerus, kedua pihaknya menganjurkan agar memvaksin hewan penular rabies peliharaannya, ketiga disampaikan agar hindari kontak dengan hewan penular rabies ini.
"Apalagi hewan penular rabies yang tidak dikenal, yang tidak familiar dengan kita. Kemudian, keempat adalah apabila ada hewan yang dicurigai sakit, jangan diganggu dan laporkan dengan petugas," jelasnya.
Kemudian untuk penanganannya juga, jika tergigit, maka luka gigitan itu langsung dibersihkan dengan air yang mengalir pakai sabun selama 15 menit.
Supaya virus yang kemungkinan ada dalam gigitan, cakaran atau jilatan tadi, bisa mengalir bersama air tersebut.
"Sehingga jumlah virus yang masuk kedalam tubuh itu berkurang. Nah, semakin banyak virus yang masuk maka semakin fatal akibatnya. Dengan dicuci itu setidaknya mengurangi populasi virus yang masuk ke dalam darah," ujarnya.
Polda Kalbar Ungkap Penyusup Demo! Barang Bukti Mengejutkan Ditemukan di Lokasi |
![]() |
---|
Dinas Pertanian dan Pangan Kapuas Hulu Gelar Gerakan Pangan Murah |
![]() |
---|
Sembang Pantun Pagar Budaya Semarakkan Bumi Galaherang Mempawah |
![]() |
---|
Gubernur Kalbar Imbau Mahasiswa hingga Masyarakat Tetap Tenang dan Tidak Terprovokasi |
![]() |
---|
Solidaritas untuk Affan, Mahasiswa Sintang Duduk Bersama Polisi Gelar Doa |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.