Purwanto, Pedagang Es Krim Jadul Berkeliling Singkawang Sejak 1995

Dalam sehari, ia bisa memproduksi hingga lima gerobak es krim, tergantung kebutuhan. Meski kini ia sudah menggunakan mesin untuk memutar adonan, es kr

Tayang:
Penulis: Widad Ardina | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/WIDAD ARDINA
PEDAGANG ES KRIM - Kisah seorang pedagang es krim jadul di Singkawang, Purwanto. Pria asal Jawa Tengah yang sudah berjualan es krim sekitar 30 tahun. 

TRIBUNPONTIANAK. CO.ID, SINGKAWANG - Di sudut kota Singkawang, di balik gerobak sederhana berwarna biru, seorang pria paruh baya, Purwanto, pria asal Jawa Tengah yang telah merantau ke Singkawang sejak 1995, menjadi salah satu pedagang es krim jadul yang masih bertahan hingga kini.

Purwanto memulai kisahnya sebagai penjual es krim sejak tahun 1991, ketika ia masih berusia 15 tahun dan merantau ke Jakarta. 

“Saya ikut abang saya jualan es di sana,” katanya saat diwawancarai tribunpontiank.co.id, Jumat 11 April 2025.

Tahun 1995, ia memutuskan pindah ke Singkawang mengikuti teman sekampung, dan menetap hingga kini. Sejak itu, ia tak pernah beralih profesi. 

“Saya nggak pernah kerja lain, dari dulu jualan es terus," ucapnya.

Menurutnya, usaha ini tidak hanya sekadar mencari nafkah, tapi juga bentuk penghargaan terhadap warisan keluarga.

“Almarhum bapak saya juga jualan es. Jadi ini semacam turunan,” ungkapnya.

Dalam sehari, ia bisa memproduksi hingga lima gerobak es krim, tergantung kebutuhan. Meski kini ia sudah menggunakan mesin untuk memutar adonan, es krim buatannya tetap mempertahankan resep tradisional.

Namun, seperti usaha lain, pekerjaan ini tak lepas dari suka duka. 

Kadis PMTK Kota Singkawang, Yasmalizar: Birokrat Senior Penggerak Investasi dan Ketenagakerjaan

“Kalau panas, es cepat habis, banyak yang beli, itu sukanya. Tapi kalau hujan, berhari-hari nggak bisa jualan. Apalagi kalau banjir,” katanya.

Selain cuaca, tantangan lain adalah kenaikan harga bahan baku, terutama kelapa. 

“Dulu kelapa cuma 10.000 ribu hingga 12.000 ribu, sekarang 20.000 ribu per kilo. Naiknya hampir 100 persen, tapi harga jual tetap,” keluhnya.

Meski hanya lulusan SD, Purwanto punya cita-cita besar untuk anak-anaknya. Ia memastikan pendidikan anak-anaknya tidak terputus seperti dirinya dulu. 

Dari hasil menjual es krim, Purwanto berhasil membesarkan dua anak. Anak pertamanya kini sedang kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta, sementara anak keduanya duduk di bangku kelas 3 SMP. 

“Kita orang tua harus belajar dari pengalaman. Saya dulu nggak bisa sekolah karena orang tua nggak mampu. Tapi anak saya harus bisa lebih tinggi pendidikannya,” katanya. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved