Idul Adha

Kapan Idul Adha 2023? Potensi Beda Hari Raya Lebaran Haji Pemerintah dan Muhammadiyah

Idul Adha diperingati setiap 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah memiliki sejarah serta makna yang mendalam bagi muslim.

Tayang:
Penulis: Rizky Zulham | Editor: Rizky Zulham
Dok. Tribunnews.com
Ilustrasi. Kapan Idul Adha 2023? Potensi Beda Hari Raya Lebaran Haji Pemerintah dan Muhammadiyah. 

Jadwal Lebaran Idul Adha 2023 menurut PP Haji Muhammadiyah

Hasil hisab hakiki wujudul hilal, PP Muhammadiyah menetapkan 1 Zulhijah 1444 H jatuh pada hari Senin, 19 Juni 2023.

Sehingga hari Arafah tanggal 9 Zulhijah 1444 H jatuh pada Selasa, 27 Juni 2023.

Sedangkan tanggal 10 Zulhijah 1444 H yang diperingati sebagai Hari Raya Idul Adha bertepatan pada Rabu, 28 Juni 2023.

Artinya PP Muhammadiyah memutuskan bahwa Hari Raya Idul Adha 2023 jatuh pada Rabu, 28 Juni 2023

BEDA Lebaran Idul Adha 2023 Versi Kemenag dan Muhammadiyah, Arab Saudi Kapan?

Sejarah Idul Adha

Apabila membahas sejarah Idul Adha, maka tidak bisa lepas dari kisah teladan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Keduanya termasuk dalam 25 nabi yang wajib diketahui umat Islam.

Melansir dari Gramedia, sejarah Idul Adha bermula dari pasangan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar yang belum dikaruniai keturunan. Suatu riwayat menyebutkan bahwa usia Nabi Ibrahim kala itu sudah mencapai 85 tahun.

Usai penantian panjang, doa Nabi Ibrahim dan Siti Hajar akhirnya dikabulkan Allah SWT. Siti Hajar, yang merupakan istri kedua Nabi Ibrahim mengandung hingga melahirkan putra, yang diberi nama Ismail.

Sayangnya, kebersamaan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan putranya tidak berlangsung lama. Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk meninggalkan Mekkah dan pergi ke Yerussalem.

Baik Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, menerima perintah Allah SWT tersebut dengan lapang dada. Nabi Ibrahim pun meninggalkan Siti Hajar dan Ismail yang baru lahir itu.

Selama kepergian Nabi Ibrahim ke Yerussalem, Siti Hajar mengalami peristiwa penting yang kemudian menjadi salah satu rukun ibadah haji.

Melansir dari laman Badan Pengelola Keuangan Haji, Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi ditinggalkan di Mekkah yang tandus. Saat itu, Siti Hajar mulai kehabisan persediaan air dan bekal.

Sementara, Ismail bayi menangis kelaparan. Kemudian, Siti Hajar melihat bayangan air di Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Siti Hajar berlari bolak-balik antara kedua bukit itu sebanyak tujuh kali, namun tak kunjung menemukan sumber air.

Saat itulah, Siti Hajar melihat sumber air dari tanah di bawah kaki Ismail. Dengan sigap, Siti Hajar mengumpulkan air tersebut, seraya berkata zamzam dalam bahasa Arab, yang berarti berkumpul.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved