Data Susenas, Konsumsi Daging Sapi Masyarakat Kalbar hanya 0,02 Kg Per Kapita Per Bulan
Konsumsi ikan diawetkan juga mengalami peningkatan dari tahun 2020 dibanding tahun 2021 yaitu sebesar 0,09 persen poin.
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kandungan nutrisi dalam makanan selain karbohidrat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh adalah protein.
Data sumber protein yang dihasilkan dari Susenas adalah ikan baik segar maupun diawetkan, daging sapi atau ayam, telur dan bahan olahan kacang-kacangan seperti tahu dan tempe.
Kepala BPS Kalbar, Moh Wahyu Yulianto mengatakan konsumsi ikan segar mengalami kenaikan sebesar 0,01 persen poin dari 1,86 kg per kapita sebulan pada tahun 2020 menjadi 1,87 kg per kapita sebulan pada tahun 2021.
Baca juga: Banggakan Daerah, Peserta Utusan Kalbar Raih Juara Umum Batik Indonesia
Konsumsi ikan diawetkan juga mengalami peningkatan dari tahun 2020 dibanding tahun 2021 yaitu sebesar 0,09 persen poin.
"Jika dibandingkan dengan target konsumsi ikan yang dicanangkan pemerintah sebesar 40 kg per kapita setahun, maka konsumsi ikan penduduk Kalbar masih harus ditingkatkan," ujar Wahyu, Selasa 18 Oktober 2022.
Ikan segar lebih banyak dikonsumsi oleh penduduk Kalbar di daerah perdesaan, yaitu sebesar 1,89 kg per kapita sebulan dibandingkan di perkotaan yang sebesar 1,84 kg per kapita sebulan.
Begitu juga konsumsi ikan diawetkan lebih banyak dikonsumsi oleh penduduk di perdesaan dengan nilai konsumsi sebesar 1,83 kg per kapita sebulan dibandingkan di perkotaan sebesar 1,39 kg per kapita sebulan.
Selain ikan, sumber protein hewani lainnya berasal dari daging ayam dan daging sapi. Wahyu mengatakan konsumsi daging ayam penduduk Kalbar tahun 2021 sebesar 0,67 kg per kapita sebulan, sedangkan konsumsi daging sapi hanya 0,02 kg per kapita sebulan.
"Jumlah konsumsi daging sapi yang lebih sedikit dibandingkan daging ayam karena harga daging sapi yang lebih mahal
dibandingkan harga daging ayam. Baik daging ayam maupun daging sapi ternyata banyak dikonsumsi oleh penduduk yang tinggal di perkotaan daripada di perdesaan. Hal ini dapat dikaitkan dengan disparitas daya beli penduduk di perkotaan dan perdesaan terhadap komoditas tersebut karena harganya yang relatif mahal," ujarnya. (*)
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Kepala-Badan-Pusat-Statistik-BPS-Provinsi-Kalimantan-Barat-sdf-ds.jpg)