Emak-emak Mengadu ke Sutarmidji Minta Perbaikan Drainase Jalan Cadika Sintang

Rumah masuk air, banjir. Rusak sudah lama. Makanya kami berani ke sini mau minta tolong.

Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK/Anggita Putri
Gubernur Sutarmidji usai menjadi inspektur upacara pada HUT Ke-77 RI di Halaman Kantor Gubernur, Rabu 17 Agustus 2022 

Buruknya drainase yang tak kunjung diperbaiki menyebabkan ruas jalan Cadika menjadi tempat genangan air. Saking lamanya terendam air sebagian aspal nyaris tak pernah kering. Ada banyak rumput liar tumbuh subur. Begitupun dengan lumut yang menutup sebagian permukaan aspal.

Sudah hampir 10 tahun warga yang tinggal di sekitaran Jalan Cadika, hidup di antara genangan air. Air tidak hanya merendam sebagian jalan, tapi juga masuk ke dalam rumah. Warga terpaksa membuat panggung di dalam rumah untuk tidur untuk tidak hanya menghindari air, tapi juga binatang buas, seperti ular. "Ndak tenang tidurnya. Ular sering masuk," kata Julia.

Setiap kali turun hujan. Julia selalu waswas. Meskipun durasinya hanya setengah jam, genangan air di Jalan Cadika sudah masuk ke dalam rumah. "Tilam ngapung dalam rumah. Tempat tidur kayak kandang. Bikin panggung. Dalam rumah licin. Hujan bentar air masuk," ungkapnya.

Genangan air tak hanya merendam ruas Jalan Cadika, tapi juga rumah warga. Tak hanya di pekarangan rumah, bahkan masuk ke dalam. Cukup lama warga tertekan, bahkan ada yang sampai pindah.

"Rumah rusak. Dalam rumah ada panggung. Air ndak pernah surut dalam rumah. Bahkan tetangga kami sampai pindah, udah setengah tahun lebih, ndak betah air masuk rumah ada panggung dalam rumah," kata Julia.

Saking lamanya terendam genangan air, membuat jalan berlubang. Tak sedikit pengendara yang jadi korban.

Mereka jatuh, terjerembab. "Banyak yang jatuh kemarin bawa ke rumah sakit. Tengah malam jatuh korban, ada orang ndak kami kenal, tabrak batu. Jungkir balik," cerita Julia.

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan Tuti. Dalam rumahnya, juga ada panggung setinggi setengah meter. Setiap hujan, air masuk lebih dari mata kaki. Padahal, jalan cadika jauh dari bantaran sungai, bahkan pada saat banjir besar melanda Sintang, warga setempat tidak kebanjiran. Mereka hanya terdampak genangan air.

"Tempat tidur naik setengah meter. Air masuk bisa lebih dari mata kaki. Kalau keluar rumah pakai sepaku boot," ujar Tuti.

Tuti mengatakan, "Hampir 10 tahun ndak ada perbaikan. Mereka datang cuma ngukur, foto-foto. Ndak ada solusi sama sekarang. Kami hanya minta drainase, supaya air keluar. Kami harapkan pemerintah bikin parit supaya air kering kasihan masyarakat. Permintaan kami cuma satu betulkan drainase supaya air lancar ngalir."

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sintang, Murjani , mengatakan tahun 2022 belum ada program perbaikan drainase jalan Cadika di Desa Baning Kota. Dia berharap ada anggaran biaya tambahan untuk membantu mengurai persoalan genangan air yang dikeluhkan oleh masyarakat.

"Tahun ini belum. Mudah-mudahan di ABT ada atau tahun 2023," kata Murjani, belum lama ini.
Murjani mengatakan sebelum drainase diperbaiki sebaiknya dibangun terlebih dahulu gorong-gorong di jalan nasional YC Oevang Oeray. Hal ini penting supaya genangan air bisa keluar sampai ke Sungai Melawi.

Hanya saja, Pemkab Sintang tidak punya kewenangan untuk membangun gorong-gorong di ruas jalan berstatus nasional tersebut. Murjani mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Balai Pelaksana Jalan Nasional, namun hingga sekarang belum terealisasikan.

Murjani berharap, tahun depan Balai Pelaksana Jalan Nasionak bisa membangun gorong-gorong di ruas jalan nasional sebelum drainase diperbaiki. "Mudah-mudahan tahun ini bisa segera dibangun gorong dan saya akan berkoordinasi lagi ke pihak balai pelaksanaan jalan nasional provinsi Kalbar," jelasnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved