Antisipasi Penyakit Cacar Monyet, Dinkes Sanggau Imbau Tetap Waspada dan Berhati-Hati

"Perbedaan utama antara gejala cacar air dan cacar monyet adalah bahwa cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (Limfadenopati

TRIBUNPONTIANAK/HENDRI CHORNELIUS
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau Sarimin Sitepu. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Terkait antisipasi penyakit cacar monyet, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau Sarimin Sitepu mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan selalu berhati-hati.

"Penyakit cacar monyet sudah dilaporkan masuk ke Indonesia, kita tidak perlu panik tapi tetap perlu waspada dan berhati-hati,"katanya, Senin 22 Agustus 2022.

Sarimin menjelaskan, pada manusia, gejala cacar monyet mirip dengan gejala cacar air, namun lebih ringan. Gejala dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

"Perbedaan utama antara gejala cacar air dan cacar monyet adalah bahwa cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (Limfadenopati), sedangkan cacar air tidak. Masa inkubasi cacar monyet biasanya berkisar dari 6 hingga 13 hari, tetapi dapat pula 5 hingga 21 hari,"jelasnya.

Oleh karenanya, Sarimin berpesan jika mendapati gejala dan tanda seperti yang tertera diatas, diharapkan untuk dapat segera melapor ke fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) agar dapat segera tertangani.

Cacar monyet lanjut Sarimin, penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Cacar monyet pertama kali ditemukan pada tahun 1958. Pada saat itu ditemukan wabah penyakit mirip cacar yang menyerang koloni monyet yang dipelihara untuk penelitian.

Kalbar Waspada Cacar Monyet, Sekda Harisson Sebut Isolasi Tak Seketat Pasien Covid-19

"Hal tersebut yang menyebabkan penyakit ini disebut sebagai cacar monyet atau monkeypox. Kasus cacar monyet pertama yang menginfeksi manusia tercatat pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo. Sejak saat itu, kasus cacar monyet dilaporkan telah menginfeksi orang-orang di beberapa negara Afrika Tengah dan Barat,"jelasnya.

Virus cacar monyet dapat menular ketika seseorang bersentuhan dengan virus dari hewan yang terinfeksi. Cacar monyet ditularkan pula dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan luka infeksi, koreng, atau cairan tubuh penderita.

"Penyakit ini juga dapat menyebar melalui droplet pernapasan ketika melakukan kontak dengan penderita secara berkepanjangan,"ujarnya.

Terkait pencegahan, kata Sarimin, ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus cacar monyet, yang meliputi hindari kontak dengan hewan yang dapat menjadi reservoir virus (Termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi).

Hindari kontak dengan bahan apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit. Pisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi.

"Kemudian, lakukan cuci tangan yang baik dan benar setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. Menggunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien yang terinfeksi dan memasak daging dengan benar dan matang,"pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved