Kesurupan adalah Sebuah Fenomena, Simak Penjelasan Secara Ilmiah

Menurut para ilmuwan, fenomena kesurupan hadir di tengah-tengah masyarakat yang religius. Gagasan ini bahkan sudah ada sejak di bangunnya gereja

TRIBUN PONTIANAK / ANESH VIDUKA
Fenomena kesurupan menggambarkan kuatnya kepercayaan masyarakat. Untuk menghindarinya, mereka cenderung selalu berbuat baik sesuai aturan kepercayaannya. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Kesurupan menjadi sebuah fenomena yang tak biasa dan mengendalikan alam bawah sadar.

Kesurupan adalah hal lumrah di kalangan masyarakat Indonesia. Apalagi Indonesia memiliki kepercayaan tradisional yang kental akan mistisme dan masih diyakini oleh penduduk setempat.

Kesurupan bisa membuat tak sadarkan diri. Penyebabnya tak lain adalah hantu atau arwah orang mati yang merasuki tubuh. Oleh sebab itu, tak jarang penyelesaiannya dilakukan dengan cara agama, seperti rukiah atau eksorsisme.

Hal ini juga dikisahkan dalam audio drama siniar Tinggal Nama bertajuk “Almarhum Menuntut Keadilan [Pt.1]”. Diceritakan ada sebuah upacara pemanggilan arwah yang diusung suatu komunitas. Sayangnya, peristiwa itu malah membuahkan malapetaka bagi para anggotanya.

Akan tetapi, kesurupan tak selamanya harus dikaitkan dengan hal-hal gaib. Kesurupan bisa juga dijelaskan melalui pendekatan ilmiah, misalnya lewat ilmu psikologi. Lantas, bagaimanakah penjelasan selengkapnya?

Lebih Religius, Atta Halilintar Sering Bertanya Perihal Tanggungjawab, Gus Miftah Beri Wejangan

Kesurupan Hadir dalam Masyarakat yang Religius

Menurut para ilmuwan, fenomena kesurupan hadir di tengah-tengah masyarakat yang religius. Gagasan ini bahkan sudah ada sejak di bangunnya gereja yang kerap mengasosiasikan suatu tindakan buruk karena ulah roh jahat.

Gagasan adanya kepercayaan terhadap makhluk supranatural menyebabkan kehidupan spiritual masyarakat yang tidak biasa.

Pada awalnya, spiritualisme merupakan agama yang berkembang di Amerika pada 1800-an.

Agama tersebut mengajarkan kalau roh dapat merasuki manusia. Mereka percaya roh orang yang telah tiada dapat menghuni tubuh sebagai medium berkomunikasi.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya literatur yang merujuk pada komunikasi manusia dengan roh.

Masyarakat yang belum memiliki pendidikan akhirnya pergi ke tempat ibadah terdekat untuk menyembuhkan tubuh orang yang diyakini telah menjadi medium.

Ibunya Menangis Histeris, Rosti Berharap Roh Brigadir J Bisa Beri Petunjuk

Dilansir The Guardian, Canon Michael Perry, Christian Parapsychologist, menambahkan, “Roh jahat itu kemudian diusir pergi ke tempat lain melalui kekuatan yang lebih besar (Tuhan).”

Masih dalam sumber yang sama, Psikolog dari Bristol, Susan Blackmore percaya bahwa fenomena kesurupan menggambarkan kuatnya kepercayaan masyarakat. Untuk menghindarinya, mereka cenderung selalu berbuat baik sesuai aturan kepercayaannya.

Bahkan, mereka terkadang bisa saja berperilaku seolah-olah kesurupan ketika sedang dihadapkan pada suatu masalah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved