Kisah Rosnazizi Mantan Napi Teroris Asal Kalbar yang Mengaku Pernah Akan ke Suriah

a berfikiran bahwa Pancasila tidak sesuai dengan Alquran dan hadist, namun saat ini ia meyakini bahwa Pancasila yang sangat sesuai dan relevan

Penulis: Ferryanto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Ferryanto
Rosnazizi, narapidana terorisme asal Kalimantan Barat saat menjadi narasumber Focus Group Discussion bertemakan Moderasi Beragama dan Pluralisme di rumah Adat Melayu Kota Pontianak, Kamis 14 Juli 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Rosnazizi, narapidana terorisme asal Kalimantan Barat berpesan kepada seluruh masyarakat bila mempelajari sesuatu untuk tidak hanya dari satu sisi saja. 

Karena bila hal itu dilakukan maka dapat membentuk pola fikir yang sempit, sehingga akan mudah dipengaruhi dengan  berbagai paham  radikal. 

Hal tersebut  ia sampaikan saat menjadi narasumber pada Focus Groub Discussion yang digelar Kantor Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat  di Rumah Aday Melayu Pontianak, yang bertemakan Moderasi beragama dan pluralisme,  Kamis 14 juli 2022. 

Baca juga: Diduga Menyelewengkan Dana Desa, Warga Laporkan Kades Sungai Nanjung ke Kejaksaan Negeri Ketapang

Dahulu saat terpapar paham radikal, ia berfikiran bahwa Pancasila tidak sesuai dengan Alquran dan hadist, namun saat ini ia meyakini bahwa Pancasila yang sangat sesuai dan relevan dengan Indonesia yang tediri dari Pluralisme. 

"Pancasila itu sudah sesuai dengan kondisi Indonesia, dahulu para ulama dan tokoh agama lainnya sudah merumuskan Pancasila yang menyesuaikan karakter Indonesia  yang terdiri dari berbagai suku dan agama,'' ujarnya. 

Ia menceritakan bahwa dahulu, pada sekira tahun 2010 ia memiliki keinginan untuk berhijrah secara total dan memperdalam pemahaman keagamannya dan ingin hidup sesuai syariat. 

''Saya dulu berkeinginan untuk hidup secara islam dan mati secara islam sebagaimana seruan Allah," ujarnya. 

Namun saat itu diakuinya saat itu ia salah mendapat referensi dan salah memilih teman sehingga diakuinya saat itu dirinya terjerumus dalam pehaman radikal, bahkan pada tahun 2016 hampir akan berangkat ke Suriah. 

Dalam pehamamannya dulu, sesuatu hal yang tidak sesuai dengan Alquran dan hadist langsung salah walaupun itu sesama muslim. 

Akibat hal itu, ia bersama anggota  keluarga ditangkap oleh Densus 88 dan menjalani Pidana, dan baru bebas pada tahun 2021 setelah dirinya sadar ada yang salah dengan pemahamannya saat ini. 

Ia menceritakan, dirinya sadar bahwa pehamamannya salah selama ini setelah merenungkan kembali berbagai penggalan ayat yang ia pernah pelajari dahulu. 

Ternyata memahami ayat-ayat secara sepenggal itu salah, pehamannya menjadi tidak utuh hingga membuatnya berfikiran sempit, saat di penjara  ia meminta Alquran beserta terjemahannya untuk ia pelajari secara utuh, dari situlah ia sadar akan kesalahannya. 

Dalam memahami belajar satu hal,  iapun berpesan untuk tidak hanya dari satu sumber  saja, namun harus dari berbagai sumber. 

Kemudian, menerapkan amar mahruf nahimungkar saat lah penting, namun ia menegaskan dalam menerapkannya tidak boleh sampai menimbulkan kemungkaran yang lain. 

"Contohnya yang saat ini viral, kasus HollyWings, kalau pendapat  saya HollyWings tidak perlu di tutup, lalu rusaknya apa ya yang rusaknya saja itu yang dibuang, karena disitu kalau ditutup ada mudharat yang lain, lebih baik ganti produknya dengan sesuai," ujarnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved