Pramulya Beberkan Pentingnya Master Plan Interkoneksi Kawasan Hutan Negara dan APL Berhutan
Penyusunan Masterplan interkoneksi KELUTAP ini akan dibantu tenaga konsultan dari Laboratorium Terpadu Univesitas Tanjungpura Pontianak.
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Master Plan Interkoneksi Kawasan Hutan Negara dan APL Berhutan pada Kawasan TWA Gunung Kelam, HL Bukit Luit dan HL Bukt Rentap di Kabupaten Sintang, mulai disusun.
Kegiatan ini merupakan lintas instansi yang ada di Kabupate Sintang yaitu melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dan Pemerintah Kabupaten Sintang, yang difasilitasi oleh Kalimantan Forest Project (KalFor Project).
Penyusunan Masterplan interkoneksi KELUTAP ini akan dibantu tenaga konsultan dari Laboratorium Terpadu Univesitas Tanjungpura Pontianak.
Ketua Tim Penyusun, Muhammad Pramulya menyatakan akselerasi dilakukan dengan memilih destinasi wisata Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Kelam, Hutan Lindung Liut dan Rentap yang akan dikembangkan.
• Master Plan Interkoneksi Kawasan Hutan Negara, APL Berhutan di Kelutap Sintang Mulai Disusun
Untuk melakukan akselerasi, salah satu tantangan yang dihadapi adalah terkait dengan kewenangan pengelolaan kawasan dimana TWA Gunung Kelam merupakan kawasan pelestarian alam di bawah kewenangan Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan.
"Sementara Hutan Lindung Bukit Luit dan Bukit Rentap memiliki status kawasan sebagai hutan lindung di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sintang Utara," kata Pramulya.
Menurut Pramulya, kunci utama meningkatkan jumlah wisatawan adalah mempermudah akses transportasi ke tempat wisata, membenahi tempat wisata, melakukan promosi wisata besar besaran, menambah jumlah event budaya dan meningkatkan jumlah dan kualitas SDM di sektor pariwisata.
Untuk mempermudah akses ke tempat wisata, keberadaan bandara memegang peranan penting. Bandara dekat lokasi wisata harus ditingkatkan pelayanan dan kapasitasnya supaya dapat disinggahi pesawat berkapasitas besar.
"Kehadiran pesawat lebih besar akan menekan biaya transportasi wisata. Selain transportasi udara, kualitas infrastruktur transportasi darat masih memprihatinkan. Banyak lokasi wisata yang sulit di akses karena buruknya prasarana jalan dari bandara ke lokasi tersebut. Dampaknya, minat wisatawan mengunjungi tempat wisata tersebut berkurang," jelasnya.
Masterplan interkoneksi di kawasan pariwisata harus menjadi prioritaskan untuk memudahkan wisatawan menjangkau ke berbagai wilayah tujuannya. Bandara Tebelian menjadi simpul interkoneksi akses ke kawasan pariwisata.
"Sebagai contoh, potensi wisata di sekitar Kawasan Kelutap, Kabupaten Sintang mempunyai ikon wisata yang bernilai jual tinggi, apabila dilihat dari potensi plasma nuftah yang bisa menjadi wisata citizen Science seperti Sirih Hutan, Bunga Bangkai, Rambai Hutan, dan lain-lain. Selain itu banyak sekali potensi bila dilihat dari makanan sampai keunikan tradisi masyarakatnya dapat dipromosikan tidak hanya nilai eksotik alam semata tetapi juga kekayaan budayanya serta kearifan lokal suku dayak seperti ritual tolak bala, panen padi, tarian serta potensi anyaman dari bahan alam," beber Pramulya. (*)
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Kalfor-030622.jpg)