Doa Katolik

Orang Kudus Katolik Santo Agustinus Yi Kwang-Hon Perayaan 24 Mei

Ia berasal dari keluarga bangsawan Kwangju Yi, yang mana pada masa penganiayaan tahun 1801, banyak anggota keluarga bangsawan ini yang gugur.

Terang Iman
Orang Kudus Katolik Santo Agustinus Yi Kwang-Hon Perayaan 24 Mei. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Orang Kudus Katolik 24 Mei Santo Agustinus Yi Kwang-Hon.

Santo Agustinus Yi Kwang-hon lahir pada tahun 1787 di Kwangju, Gyeonggi-do Korea.

Ia berasal dari keluarga bangsawan Kwangju Yi, yang mana pada masa penganiayaan tahun 1801, banyak anggota keluarga bangsawan ini yang gugur menjadi martir Kristus.

Agustinus Yi Kwang-hon bersama dengan adik laki-lakinya, Yohanes Pembaptis Yi Kwang-ryol, istrinya Barbara Kwon Hui, dan juga putrinya Agatha Yi, empat anggota dalam satu keluarga ini juga memenangkan mahkota kemartiran dan menjadi menjadi saksi-saksi Kristus yang jaya.

Orang Kudus Katolik Santa Agatha Yi So-Sa Perayaan 24 Mei

Yi Kwang-hon dikenal sangat cerdas dan cakap dan diketahui pada masa mudanya ia kurang menahan diri dan terjerumus dalam pergaulan bebas.

Pada masa ini, Raja Jeongjo (Raja ke-22 dari Dinasti Joseon) meninggal dunia dan digantikan oleh Pangeran Sun-jo yang saat itu masih berusia sebelas tahun.

Pergantian kekuasaan ini memiliki dampak politik dimana kekuasaan berpindah-pindah dari satu fraksi ke fraksi lain.

Gereja Katolik Korea yang baru saja bertumbuh terjebak dalam pertarungan politik dan penganiayaan terhadap Gereja mulai terjadi pada tahun 1801.

Di Tahun itu Gereja Katolik dinyatakan sebagai ajaran yang salah dan terlarang di seluruh wilayah kerajaan.

Penganiayaan dimulai dan darah para martir Kristus pun mengalir di tanah Korea.

Pada waktu itu, Yi Kwang-hon berusia tiga puluh tahun dan sudah menikah dengan Kwon Hui selama beberapa tahun.

Kebiasaannya untuk keluyuran dan hidup bebas masih belum berubah.

Suatu hari, dia secara tidak sengaja bertemu dengan seorang Katolik yang saleh.

Dari orang itulah pertama kalinya dia mendengar tentang Kristus dan iman Kristiani.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Yi Kwang-hon merenungkan bahwa Tuhan yang memiliki segala sesuatu di Surga dan bumi itu ada, dan juga Tuhan yang Mahatahu dan Mahakuasa serta menjadi Bapa bagi semua orang.

Dan ketika manusia meninggal, tubuhnya kembali menjadi debu, namun jiwanya akan tetap hidup.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved