Update Terbaru Kasus Penyakit Mulut dan Kuku di Kalbar

Ada pusat data yang nanti dirilis oleh unit atau crisis center PMK yang akan dibentuk mulai dari nasional, provinsi dan di kabupaten.

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK/Ferryanto
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat M Munsif. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Data Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar per 14 Mei dari total 208 ekor hewan ternak di Kalbar yang dilakukan pengecekan 14 hewan ternak positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Diantaranya sapi positif 4 ekor, kambing positif 8 ekor, dan domba positif 2 ekor. Suspect sapi 94 ekor, kambing 99 ekor, dan 1 kambing negatif.

"Kalbar, saat ini per tanggal 17 ada 14 ekor positif atau merah. Posisinya masih di tempat yang sama yang positif yaitu di Kubu Raya di instalasi karantina, Sungai Ambawang dan di Madu Sari. Sementara yang lainnya itu ada yang di Sungai Nipah," ujarnya Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, M Munsif pada 17 Mei 2022.

Sementara yang suspek memang dilaporkan saat ini tidak ada perubahan dan masih di seputaran 4 kabupaten. Namun kata Munsif hanya di beberapa titik saja, misalnya di Sanggau hanya di satu farm saja di Desa Beringin.

Munaji Nilai Kebutuhan Sapi Akan Meningkat Jelang Hari Raya Idul Adha

"Jadi jangan terkesan Sanggau secara keseluruhan. itu suspek 5 ekor meski mereka memiliki ternak banyak. Kemudian Kubu Raya hanya di tiga kecamatan hanya 3 ekor, di Pontianak masih suspek semua. Walaupun suspek kita tidak abai tetap dilakukan pengawasan oleh tim medik," ujarnya.

Ia mengatakan pasca merebaknya wabah PMK, Menteri memanggil kepala dinas peternakan se-Indonesia untuk melakukan rapat koordinasi. Hasil rapat disepakati soal penyampaian data satu pintu seperti Covid-19.

"Ada pusat data yang nanti dirilis oleh unit atau crisis center PMK yang akan dibentuk mulai dari nasional, provinsi dan di kabupaten. Per hari ini, kebijakannya adalah crisis center yang akan merilis data itu minimal provinsi. Kabupaten kita sarankan tidak mengeluarkan karena crisis center provinsi yang akan memverifiaksi ke kabupaten sebelum dirilis," ujarnya.

Munsif mengatakan tujuannya agar tidak terjadi perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan informasi simpang siur. Hal tersebut penting untuk menghilangkan kecemasan publik terhadap simpang siur.

"Saat ini fokus arahan menteri itu, kita fokus ke yang konfirmasi positif, yang memang berdasarkan uji lab PCR itu hasilnya memang positif PMK. Saat ini data terkait dengan perkembangan penyakit itu akan dikategorikan menjadi sementara ya. Sementara ini masih dinamis yaitu merah, kuning dan hijau," ujar Munsif.

Merah adalah teknak yang positif, kuning mengarah pada kategori suspek dan hijau teknak yang sembuh.

"Jadi harus seimbang juga, jangan sampai ada kesan bahwa penyakit ini lalu mematikan. Penyakit ini secara statistik tidak menyebabkan kematian yang fatal sebenarnya. Ada kematian hanya rendah, di Jawa Timur kemarin habis rapat koordinasi dilaporkan hanya 0,6 saja," ujarnya.

Justru yang menjadi masalah itu kata Munsif adalah penyebarannya yang cepat. Meskipun tidak menyebabkan kematian, namun ternak yang sakit itu secara ekonomis nilainya turun.

"Ada bagian yang tentu tidak leluasa lagi dijual kecuali mungkin ada perlakuan seperti dimasak dengan air mendidih sehingga cukup waktunya, itu tidak menyebabkan dia jadi sumber penularan," ungkapnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved