Kelompok Meriam Karbit di Pontianak Terkendala Dana dan Bahan Baku, Warga Khawatir Tradisi Luntur

Forum Komunikasi Seni dan Budaya Meriam Karbit Kota Pontianak yang mewakili para kelompok meriam karbit ini pun merasa khawatir, tradisi meriam karbit

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/MUHAMMAD ROKIB
Warga mempersiapkan Meriam Karbit di tepian sungai Kapuas gang Irian kota Pontianak Kalimantan Barat. 

TRIBUN PONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sejauh ini, kelompok meriam karbit di kota Pontianak masih menemukan sejumlah kendala, terkait upaya dalam mempertahankan tradisi permainan tradisional yaitu meriam karbit. 

Adapun kendala tersebut, yaitu sulitnya para kelompok - kelompok meriam karbit untuk mendapatkan bantuan dana, dari sejumlah donatur dan perusahaan yang ada.

Berdasarkan dari pengalaman mereka, ada segelintir perusahaan yang menolak proposal dari kelompok - kelompok meriam karbit. 

"Masalah pendanaan masih menjadi kendala kelompok meriam. Kita harapkan kerjasama dari perusahaan, setidaknya perusahaan bisa mengalokasikan dana CSR nya melalui forum, nanti dana tersebut akan kita salurkan ke kelompok - kelompok meriam karbit" ungkap Forum komunikasi seni dan budaya meriam karbit kota Pontianak, Fazri Udin, Minggu 24 April 2022.

Lestarikan Budaya Pontianak, Komunitas Meriam Karbit Setia Tembelan Semarakan Ramadhan & Idul Fitri

Besar kemungkinan, akibat kendala pendanaan itulah, pada tahun ini, jumlah kelompok meriam karbit sudah mulai berkurang.

Dimana pada tahun 2019 ada sekitar 42 titik permainan meriam karbit. Namun untuk tahun ini hanya 25 titik saja. 

"Padahal jika kita lihat, di tahun lalu juga tidak diadakan festival dan dalam keadaan Covid-19, tapi antusias kelompok meriam karbit sangat tinggi. Tapi kita yakin kelompok meriam karbit lainnya tetap semangat," tambah Fazri Udin. 

Forum Komunikasi Seni dan Budaya Meriam Karbit Kota Pontianak yang mewakili para kelompok meriam karbit ini pun merasa khawatir, tradisi meriam karbit akan luntur.

Sebab tak hanya masalah pendanaan, kendala lainnya adalah material meriam karbit yang berbahan kayu balok dan rotan rupanya cukup mahal dan sulit mereka dapatkan. 

Dia mengaku, memang saat ini ada kelompok meriam karbit yang sudah beralih menggunakan paralon. Namun menurutnya perubahan tersebut bakal mengurangi nilai seni dan budaya dari meriam karbit yang sebenarnya. 

"Hal ini juga yang menjadi kekhawatiran kita, jangan sampailah budaya kita pudar di telan zaman, apalagi material meriam karbit dari kayu balok pun sudah ada yang berubah" ujar Fazri Udin. 

Forum Komunikasi Seni dan Budaya Meriam Karbit Kota Pontianak berharap pemerintah dan stakeholder terkait bisa menanggapi keluhan mereka terkait bahan baku meriam karbit. Dengan memberikan kemudahan untuk mendapatkan kayu balok. (*)

[Update Informasi Seputar Kota Pontianak]

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved