Ingin Vaksin Booster? Kenali Dulu Efek dari Sinovac, Pfizer, AstraZeneca, Moderna hingga Zifivax
Untuk di Indonesia, program vaksinasi booster sudah dimulai pada 12 Januari 2022 lalu dan terus digulirkan.
Vakin Pfizer (Comirnaty) dapat meningkatkan nilai titer antibodi netralisasi setelah 1 bulan pemberian booster sebesar 3,29 kali.
Adapun efek samping dari vaksin ini, yakni nyeri di tempat suntikan, nyeri otot, demam, hingga nyeri sendi.
3. AstraZeneca
Vaksin AstraZeneca juga disetujui sebagai vaksin booster homolog.
Pemberian sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksinasi primer dosis lengkap AstraZeneca.
Penggunaan booster menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi IgG setelah booster lanjutan dari 1792 menjadi 3746.
Efek samping yang ditunjukkan bersifat ringan (55 persen) dan sedang 37 persen).
Efek samping paling umum, yakni: nyeri bekas suntikan, tak enak badan, merasa lelah, menggigil atau demam, sakit kepala, mual, hingga nyeri sendi.
• 3 Alasan Harus Vaksin Booster Dosis 3 Menurut WHO Kemungkinan Dialami Setiap Orang
4. Moderna
Moderna dapat digunakan untuk booster homolog ataupun heterolog (dengan vaksin primer AstraZeneca, Pfizer, dan Jenssen).
Penggunaan dapat dilakukan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah mendapat dosis lengkap vaksin primer.
Kenaikan respon imun antibodi netralisasi vaksin ini adalah sebesar 12,99 kali setelah booster homolog.
Sejumlah efek samping yang dilaporkan, yakni: nyeri di tempat suntikan, demam, pegal dan mual.
5. Zifivax
Zifivax ddapat dipakai sebagai booster heterolog setelah vaksin primer Sinovac atau Sinopharm.
Peningkatan titer antibodi penetral lebih dari 30 x.
Adapun efek samping yang bisa muncul, yakni: nyeri pada tempat suntikan, sakit kepala, kelelahan, demam, nyeri otot, batuk, mual, diare dengan tingkat keparahan grade 1 dan 2. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Efek Samping Vaksin Booster: Sinovac, Pfizer, AstraZeneca, dan Moderna