Sudah 572 Kasus Omicron di Indonesia, Berikut 3 Gejala yang Paling Banyak Dikeluhkan

Kasus Omicorn di Indonesia kembali bertambah dan rata-rata mengeluhkan paling banyak untuk 3 jenis penyakit berikut ini.

Editor: Rizky Zulham
KIRILL KUDRYAVTSEV / AFP
Ilustrasi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kasus Omicorn di Indonesia kembali bertambah dan rata-rata mengeluhkan paling banyak untuk 3 jenis penyakit berikut ini.

Kementerian Kesehatan mencatat ada penambahan 66 kasus omicron sehingga totalnya saat ini menjadi 572 kasus.

Penambahan kasus omicron tersebut terdiri dari 33 kasus dari pelaku perjalanan internasional dan 33 orang transmisi lokal.

Seluruh pasien omicron wajib menjalankan karantina kesehatan. Mayoritas menjalani karantina RSDC Wisma Atlet Kemayoran.

Terbaru Aturan Naik Pesawat saat Pandemi Omicorn Indonesia, Siapkan 3 Syarat Wajib Berikut

Jumlahnya sekitar 339 orang, sisanya menjalani karantina di rumah sakit yang telah ditunjuk oleh Satgas Penanganan Covid-19.

Terkait dengan kondisi pasien omicron, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, tidak ada perbedaan karakteristik gejala antara pasien perjalanan luar negeri dan pasien transmisi lokal.

Sebagian besar gejalanya ringan dan tanpa gejala.

Gejala paling banyak yang dialami pasien adalah batuk, pilek dan demam.

“Hampir setengahnya atau sekitar 276 orang telah selesai menjalani isolasi, sedangkan sisanya 296 orang masih isolasi."

"Dari hasil pemantauan di lapangan, mayoritas gejalanya ringan dan tanpa gejala. Jadi belum butuh perawatan yang serius,” ujar Nadia dalam keterangan tertulis, Jumat 14 Januari 2022.

Penambahan kasus omicron dalam beberapa waktu terakhir telah berimplikasi pada lonjakan kasus harian nasional.

21 Gejala Omicorn Varian Baru Covid-19 yang Patut Diwaspadai - Gejala Biasa, Umum hingga Spesifik

Bahkan proporsi varian omicron jauh lebih banyak dibandingkan varian delta.

“Dari hasil monitoring yang dilakukan Kemenkes, kasus probable Omicron mulai naik sejak awal tahun 2022. Sebagian besar dari pelaku perjalanan luar negeri, hal ini turut berdampak pada kenaikan kasus harian Covid-19 di Indonesia,” ujar Nadia.

Menghadapi lonjakan kasus Covid-19, Kementerian Kesehatan akan meningkatkan pelaksanaan 3T yakni Testing, Tracing dan Treatment terutama di daerah yang berpotensi mengalami penularan kasus tinggi.

“Langkah antisipasi penyebaran omicron telah kita lakukan dengan menggencarkan 3T terutama di wilayah Pulau Jawa dan Bali,” tuturnya.

Untuk testing, Kemenkes telah mendistribusikan kit SGTF ke seluruh lab pembina maupun lab pemerintah dan memastikan jumlahnya mencukupi.

Kapasitas pemeriksaan PCR dan SGTF juga diupayakan untuk dipercepat, sehingga penemuan kasus bisa dilakukan sedini mungkin.

Omicorn Kini Merebak di Indonesia, Kasus Aktif Covid-19 Meningkat Dua Kali Lipat

Terkait dengan tracing, Kemenkes akan meningkatkan rasio tracing pada daerah yang jumlah kasus positifnya lebih dari 30 orang untuk mencegah penyebaran yang semakin luas.

Proses tracing akan turut melibatkan TNI, Polri dan masyarakat.

Selanjutnya untuk treatment, Kemenkes menjamin ketersediaan ruang isolasi terpusat maupun isolasi mendiri untuk kasus gejala ringan dan tanpa gejala, sementara untuk gejala sedang dan berat telah disiapkan RS dengan kapasitas tempat tidur yang mencukupi.

Dengan demikian, pasien terkonfirmasi bisa menjalani isolasi dengan baik guna memutus mata rantai penularan Covid-19.

Mengingat varian omicron jauh lebih cepat menyebar dibandingkan varian delta, Nadia mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan 5M dan menyegerakan mendapatkan vaksinasi Covid-19.

(*)

Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved