Doa Katolik

Orang Kudus 14 Januari Santo Felix, Santo Fulgensius, Santa Makarina Tua, Santa Nino dan Santo Sava

Mereka mengabdikan dirinya dalam melayani Tuhan dengan cara hidup saleh. Kesalehan dan sikap hidup yang baik mengantar mereka menjadi kudus.

mirifica.net
Santo Felix dari Nola. 

Sebaliknya, dengan sabar mereka berharap dan berdoa agar penganiayaan segera berakhir.

Di hutan, mereka mencari-cari apa yang dapat dimakan dan makan tumbuh-tumbuhan liar hingga berhasil selamat.

Masa penganiayaan ini berlangsung hingga tujuh tahun lamanya, St.Gregorius dari Nazianze, yang pestanya dirayakan bersama-sama dengan St. Basilius pada tanggal 2 Januari, mencatat mengenai peristiwa tersebut.

Dalam masa penganiayaan yang lain, segala kekayaan dan harta milik Makrina dan suaminya disita penguasa.

Tak ada yang tersisa bagi mereka kecuali iman mereka dan harapan akan kasih penyelenggaraan Tuhan bagi mereka.

St. Makrina hidup lebih lama daripada suaminya, tetapi tidak diketemukan catatan tahun kematian mereka yang pasti.

Menurut tradisi, St. Makrina wafat sekitar tahun 340.

4. Santa Nino

Santa Nino.
Santa Nino. (Keuskupan Padang)

Santa Nino adalah orang yang memperkenalkan ajaran Kristen di Georgia.

Karena itu ia sering juga disebut sebagai Rasul Bangsa Georgia.

Banyak tradisi setuju bahwa Santa Nino lahir di kota kecil Colastri, di provinsi Romawi Cappadocia (sekarang Turki).

Tapi terhadap keluarga dan asal-usul Santo Nino, Gereja Roma Katolik dan Gereja Orthodox memiliki tradisi yang berbeda.

Menurut tradisi Gereja Ortodoks Timur; Santa Nino adalah puteri tunggal dari keluarga bangsawan Militer Romawi.

Ayahnya adalah kepala Pasukan Romawi bernama Zabulon dan ibunya Sosana (Susan).

Dari sisi ayahnya, Zabulon, ia masih memiliki hubungan keluarga dengan Santo Georgius.

Sedangkan ibunya adalah adik dari patriark Yerusalem, Juvenal.

Ketika Nino berusia dua belas tahun, orangtuanya menjual semua harta milik mereka dan pindah ke Yerusalem.

Di sana ayah Nino kemudian memutuskan untuk menjadi seorang biarawan pertapa.

Ia mengucapkan selamat berpisah pada keluarganya dan pergi menjadi pertapa di padang gurun.

Setelah ayahnya pergi bertapa, Ibunya Sosana juga memutuskan untuk menjalani hidup religius.

Oleh Patriak Juvenal Sosana lalu ditahbiskan menjadi seorang diakones.

Nino kemudian diserahkan untuk dirawat oleh seorang biarawati tua yang saleh bernama Sara Bethlehemlianka.

Biarawati ini membesarkan Nino dalam iman dan kasih Kristiani.

Ia selalu mengisahkan padanya kisah hidup Kristus dan penderitaan-Nya di bumi bagi umat manusia.

Setelah ia dewasa, atas bantuan pamannya, Nino lalu pergi ke Roma dimana dia kemudian memutuskan untuk memberitakan Injil Kristus di Georgia, yang saat itu adalah daerah para penyembah pagan.

Untuk itu Nino mulai berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Bunda Maria, meminta berkatnya untuk perjalanan ke Georgia.

Bunda Maria mendengar doanya dan menampakkan diri kepada Nino dalam mimpi. Bunda Maria berkata :

"Pergilah ke Iberia dan sebarkanlah kabar baik dari Injil Yesus Kristus, dan kamu akan menemukan kebahagiaan di hadapan Tuhan. Aku akan menjadi perisai yang selalu melindungimu”.

Tapi Nino masih ragu untuk menerima tanggung jawab ini.

Karena itu Ia berkata, "bagaimana aku akan mampu melaksanakan tugas yang berat seperti ini.?

Aku hanyalah seorang wanita yang rapuh, dan bagaimana aku bisa percaya bahwa penglihatan ini adalah nyata?"

Sebagai tanggapan, Bunda Maria memberikan kepadanya sebuah Salib Grapevines sembari berkata, "Terimalah salib ini sebagai perisai bagimu untuk melawan musuh-musuh yang kelihatan dan tidak kelihatan!"

Ketika ia terbangun, Nino telah memegang sebuah Salib Grapevines di tangannya.

Matanya basah oleh air mata sukacita. Salib tersebut kemudian dihiasnya dengan untaian helai rambutnya sendiri.

(Menurut sumber lain, Salib Grapevine yang diterima oleh Santa Nino Dihias dengan untaian helai rambut Bunda Maria sendiri).

Beberapa hari kemudian Nino segera berangkat ke Georgia.

Menurut Tradisi Gereja Katholik Roma; Santa Nino tiba di Georgia bukanlah atas kehendaknya sendiri.

Melainkan karena ia diculik dan dibawa kesana sebagai budak.

Di negara pagan itu, kebaikan hati serta kesucian hidup Nino menimbulkan kesan mendalam bagi para penduduknya.

Memperhatikan betapa seringnya Nino berdoa, mereka bertanya kepadanya mengenai agamanya.

Jawaban sederhana yang diberikan Nino kepada mereka adalah bahwa ia menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan.

Suatu hari, seorang ibu membawa bayinya yang sakit kepada Nino serta meminta nasehat bagi kesembuhannya.

Nino membungkus bayi itu dengan mantolnya. Ia mengatakan kepada si ibu bahwa Yesus Kristus dapat menyembuhkan bahkan penyakit yang paling parah sekalipun.

Kemudian Nino menyerahkan anak kecil itu kembali dan ibunya melihat bahwa anaknya telah sembuh sama sekali dari penyakitnya.

Ratu Iberia mendengar tentang mukjizat ini. Karena ia sendiri sedang sakit, ia pergi menemui Nino.

Ketika ratu juga disembuhkan, ratu hendak menyampaikan terima kasih kepadanya.

Tetapi Nino mengatakan: “Ini karya Kristus, bukan saya. Dan Kristus adalah Putra Allah yang menjadikan dunia ini.”

Karena mujizat ini Ratu kemudian menjadi Kristen dan dibaptis oleh Santa Nino sendiri.

Ratu kemudian menceritakan seluruh kisah kesembuhannya kepada raja.

Ratu juga mengatakan kepada suaminya bahwa ia sekarang telah menjadi seorang pengikut Kristus.

Hal ini membuat Raja Mirian yang adalah seorang penyembah dewa-dewi berhala itu menjadi marah.

Ia mengancam akan menceraikan istrinya jika tidak segera meninggalkan iman barunya itu.

Namun menurut legenda, keadaan ini tidak berlangsung lama.

Karena suatu saat ketika sang Raja sedang berburu, ia tiba-tiba tersesat dalam kabut tebal di dalam hutan.

Dalam keadaan putus asa, Raja Mirian mengucapkan doa kepada Allahnya St Nino : Jika memang bahwa Kristus yang diberitakan oleh Nino kepada istrinya adalah Tuhan, maka biarkan Dia sekarang melepaskan dia dari kegelapan ini, bahwa ia juga bisa meninggalkan semua dewa lain untuk menyembah-Nya

Begitu ia selesai mengucapkan doanya, cahaya muncul dan Raja buru-buru kembali ke istananya di Mtskheta.

Sebagai hasil dari mujizat ini, Raja Iberia meninggalkan penyembahan berhala di bawah ajaran Santa Nino dan dibaptis sebagai Raja Iberia Kristen yang pertama.

Santa Nino sendiri yang mengajarkan kebenaran-kebenaran Kristiani kepada raja dan ratu.

Mereka memberi ijin kepada St. Nino untuk mengajar penduduk mereka juga, dan Raja Mirian kemudian menjadikan Kristen sebagai agama resmi negara.

Mirian juga mengirimkan utusan kepada Kaisar Romawi Kristen, Kaisar Konstantinus, untuk menyampaikan kabar gembira bahwa ia telah menerima Kristus dan telah dibabtis menjadi seorang Kristen.

Ia juga meminta kaisar untuk mengirimkan para uskup serta para imam ke Iberia.

Pada tahun 334, Raja Mirian mulai membangun Katedral pertama di Georgia.

Pembangunan Gereja tersebut diselesaikan pada tahun 379.

Lokasi Gereja tersebut berada di tempat dimana saat ini berdiri Katedral Svetitskhoveli di Mstkheta Georgia.

Santa Nino, seorang gadis belia yang suci, telah diutus oleh Bunda Maria sendiri untuk membawa penduduk seluruh negeri masuk kedalam pelukan Gereja.

Sampai saat ini rakyat Georgia sangat menghormati Santa Nino.

Bahkan hari peringatan kedatangan Santa Nino di Georgia pada setiap tanggal 1 Juni di jadikan hari Libur Nasional negara tersebut.

5. Santo Sava

Santo Sava.
Santo Sava. (info katolik)

Pangeran Rastko Nemanjić adalah putera bungsu Raja Stefan I, pendiri dinasti Nemanjić dan peletak dasar negara Serbia.

Ia lahir sekitar tahun 1169 atau tahun 1174, di Deževa (sekarang Novi Pazar, Raška District, Serbia).

Ketika berusia 17 tahun, pangeran Rastko meninggalkan istana ayahnya untuk menjalani kehidupan membiara di sebuah biara di Gunung Athos, Yunani.

Ia lalu ditahbiskan menjadi seorang biarawan dan menggunakan nama biara; Sava atau Sabbas.

Pada tahun 1196, ayahnya turun tahta dan menggabungkan diri dengannya di gunung Athos.

Tetapi beberapa waktu kemudian, Sava dipanggil kembali ke Serbia untuk menengahi persengketaan antara kakak-kakaknya, Stefan II dan Vulkan yang nyaris meletus menjadi perang saudara yang dapat menghancurkan Kerajaan Serbia.

Sava dikenang sebagai pelopor kebangkitan bangsa Serbia.

Pada waktu itu, rakyat Serbia sangat tertinggal dalam hal pendidikan dan semangat penghayatan iman.

Sava lalu mendirikan biara-biara di tempat yang mudah dicapai umat.

Dengan cara ini, para rahib dapat dengan mudah mengunjungi umat, dan berkarya diantara mereka.

Pada tahun 1219, ia ditahbiskan menjadi Uskup Agung Serbia oleh Patriark Konstantinopel, Manuel II.

Sebagai uskup, Sava bekerja keras memperbaharui gereja dan mengembangkan iman umat.

Ia juga banyak membantu kakaknya Raja Stefan II dalam berbagai urusan negara.

Uskup Agung Sava adalah penyusun undang-undang dan kitab hukum Kerajaan serbia.

Pada tahun 1229 Sava berziarah ke tanah suci Yerusalem.

Ia mengunjungi hampir semua situs-situs suci tempat Yesus pernah hidup dan berkarya di dunia ini.

Patriark Yerusalem saat itu, Athanasius, bersama para pemimpin gereja dan para biarawan menyambut hangat kedatangan Uskup Agung Serbia yang karya dan kerja kerasnya telah bergaung keseluruh negeri.

Dalam perjalanan pulang, Sava mengunjungi biara Gunung Athos, Hilandar, kemudian melalui Thessalonika, ia kembali ke Serbia.

Uskup Agung Sava pensiun dan mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1234.

Ia kembali melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem. Kali ini ia berziarah sebagai seorang biarawan pertapa, bukan lagi sebagai seorang uskup agung.

Dalam perjalanan kembali ke Serbia, Sava jatuh sakit dan meninggal dunia pada tanggal 27 Januari 1236 di Tarnovo, Bulgaria.

Tanpa mempedulikan protes dari Kerajaan Serbia, Raja Bulgaria saat itu, Ivan Asen II, segera memakamkan Sava dalam Gereja 40 Martir Kudus di Bulgaria dengan sebuah upacara pemakaman kenegaraan.

Keponakan Sava, Raja Vladislav dua kali mengirim delegasi ke ayah mertuanya Ivan Asen II, meminta agar jasad pamannya Sava dapat dipulangkan ke tanah airnya, namun Ivan menolak.

Vladislav dengan didampingi Uskup Agung Serbia kemudian datang secara pribadi ke Bulgaria dan akhirnya mendapatkan persetujuan Ivan.

Raja Serbia bersama Uskup Agung Serbia kemudian memimpin langsung arak-arakan membawa Relikwi Santo Sava dari Bulgaria ke Serbia.

Arsip kerajaan Serbia melukiskan perjalanan ini sebagai perjalanan iman dari Bulgaria ke Serbia.

"Raja dan Uskup Agung, bersama para uskup dan klerus, para bangsawan, rakyat miskin dan kaya, semua berjalan beriringan, membawa sang Santo dalam sukacita, dengan diiringi mazmur dan nyanyian".

Kepulangan Raja Vladislav bersama Relikwi santo Sava disambut penuh sukacita oleh rakyat Serbia.

Dengan sebuah upacara kenegaraan, Relikwi bapa bangsa Serbia tersebut disemayamkan di biara Mileševa.

Pada abad 16 Kerajaan Serbia ditaklukkan oleh Ottoman Turki.

Dalam masa penjajahan bangsa muslim Turki ini, Relikwi Santo Sava dibakar oleh seorang pemimpin militer bernama Koca Sinan Pasha, menyusul pemberontakan rakyat Serbia pada tahun 1594.

Saat ini pemerintah Serbia telah membangun sebuah Katedral yang megah di situs tempat relikwi santo Sava dimusnahkan.

Katedral yang bernama Gereja Katedral Santo Sava, adalah sebuah gereja bergaya Neo-Bizantium dan merupakan gereja terbesar di Eropa Selatan.

Katedral Santo Sava juga adalah salah satu Gereja Ortodox terbesar di dunia.

Sumber: katakombe.org

(Update informasi seputar katolik klik di sini)

(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved