Tak Dapat BBM Solar, Ambulans FRKP Terpaksa Batal Bawa Jenazah ke Putussibau

Saya terpaksa kembali ke sekretariat FRKP di Jl Purnama karena tak punya solar. Saat akan isi solar di SPBU di Jalan 28 Oktober, saya tak punya kartu

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ HAMDAN
Anggota DPR RI Michael Jeno mengecek satu unit ambulance yang diserahkan Bank Mandiri Kalbar melalui program CSR ke Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Senin (10/12/2018) 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kisah miris dialami sopir mobil ambulans Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) dan Justice Peace Integrity of Creation The Order of Friars Minor Capuchin (JPIC OFM Cap). Saat melaksanakan kegiatan kemanusiaan, yaitu akan membawa jenazah, terpaksa batal. Penyebabnya karena ambulans tak dapat BBM solar dari SPBU di Pontianak.

“Saya terpaksa balik kanan, kembali ke sekretariat FRKP di Purnama karena tak punya solar. Saat akan isi solar di SPBU di Jalan 28 Oktober, Pontianak saya tidak bisa dapat karena tidak memiliki kartu,” kata Ali Chandra, sopir ambulance FRKP.

Ali Chandra mengatakan, kondisi ini sebenarnya membuat miris. Padahal yang mau isi BBM solar itu ambulans lho. Tolong pemilik SPBU memberi kelonggaran untuk semua ambulans,” kata Ali Chandra sedih.

Sementara itu Penanggungjawab FRKP, Br Stephanus Paiman OFM Cap mengatakan, “Kami dari FRKP melayani warga dengan gratis. Walau untuk mendapatkan solar kami beli. Kejadian pada hari Kamis, 4 November 2021 driver FRKP, Pak Ali balik kanan karena tak dapat solar.”

Br Stephanus Paiman OFM Cap mengatakan akibat tak dapat solar tersebut, pihaknya terpaksa tidak dapat melayani warga Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar yang meninggal di RSU St Antonius, Pontianak.

“Suatu saat nanti, kalau kondisi nya seperti ini terus, jangan kaget kalau jenazah di dalam ambulans terpaksa kami turunkan di SPBU yang tidak melayani saat ambulans mau isi solar tidak diizinkan karena alasan tidak punya kartu,” kata Br Stephanus Paiman OFM Cap yang juga Ketua JPIC OFM Cap Kalimantan tersebut.

Ali Chandra, driver ambulans FRKP saat antre BBM di SPBU di Jl 20 Oktober, Pontianak Utara.
Ali Chandra, driver ambulans FRKP saat antre BBM di SPBU di Jl 20 Oktober, Pontianak Utara. (IST)

Pelayanan Gratis
Br Steph -- panggilan akrab Br Stephanus Paiman OFM Cap -- mengatakan sekitar pukul 21.20 WIB, Kamis, 4 November 2021, Pak Ali Chandra atau biasa dipanggil Bang Ali membawa ambulans untuk mengisi BBM jenis solar di SPBU. Beberapa SPBU yang didatangi terpampang tulisan ‘Solar Habis’.

“Akhirnya Pak mengalihkan ambulansnya ke Jl 28 Oktober. Tampak beberapa truk antre mengisi BBM solar, tapi saat ambulans Pak Ali sudah sampai di mesin pengisian, petugas SPBU tidak mengisikan ambulans tersebut solar dengan alasan sopir tidak punya kartu. Tidak mau ribut, terpaksa Pak Ali balik kanan pulang ke markas FRKP di Purnama dan menyampaikan kekesalannya kepada saya, yang saat itu sedang sibuk memantau daerah yang dilanda banjir di kawasan timur Kalbar,” ungkap Br Steph, biarawan Ordo Kapusin (OFM Cap) tersebut.

“Gila ini SPBU yang tidak melayani ambulans untuk isi BBM solar. Kami beli lho bukan minta gratis. Kami melayani warga, terutama masyarakat miskin seantero Kalbar secara gratis. Beberapa kali dengan sedih terpaksa kami tidak dapat melayani warga untuk mengantar jenazah keluarganya pulang ke kampung, karena ambulans tidak ada stok BBM solar,” kata Br Stephanus Paiman OFM Cap.

Br Steph mengatakan, “Seharusnya para pemilik SPBU peka terhadap keperluan BBM solar bagi ambulans . Jika memang harus atau wajib ambulans juga menggunakan kartu untuk memperoleh BBM solar, sebaiknya diinfokan secara resmi dan dibantu proses pembuatan kartu tersebut, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.”

Br Stephanus Paiman OFM Cap berharap semoga informasi ini dapat sampai kepada pihak Pertamina, Pemerintah Daerah serta pengusaha SPBU. Sehingga ke depan tidak ada lagi keluhan sopir ambulans kesulitan mendapatkan BBM solar.

Saat ini FRKP sendiri memiliki dua unit ambulans yang menggunakan BBM solar, yakni Hilux dan KIA. Untuk perjalanan ke Putussibau diperlukan sekitar 270 liter solar atau satu drum lebih. Begitu juga kalau ke kabupaten lain yang masuk lagi ke kampung.

“Maka biasanya kami memerlukan 5-7 drum BBM solar yang stand by di sekretariat. Sehingga pelayanan kami dapat maksimal dalam waktu 24 jam. Sekali lagi, kami melayani warga masyarakat miskin secara gratis,” ungkap Br Stephanus Paiman OFM Cap.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved