2 Upacara Adat Jawa Timur dan Cara Pelaksanaannya
Khusus artikel ini akan membahas dua upacara adat yang berasal dari Jawa Timur, yaitu Upacara Adat Kebo-Keboan dan Upacara Adat Kasada Bromo.
Orang Tengger menggelar tradisi Kasada Bromo sejak masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13 Masehi.
Sejarah terjadinya tradisi adat ini dimulai ketika putri Raja Brawijaya, yaitu Rara Anteng menikah dengan putra dari seorang Brahmana Kediri, Joko Seger.
Setelah menikah, keduanya tinggal di wilayah yang tak jauh dari Gunung Bromo.
Namun, setelah menikah dalam waktu lama, mereka tidak dikaruniai seorang anak. Akhirnya, mereka berdoa dan memohon untuk meminta buah hati.
Mereka berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan berjanji jika diberikan anak, salah satu anaknya akan dikorbankan.
Tak berselang lama dari doa tersebut, Rara Anteng hamil dan melahirkan. Jumlah anak-anak mereka yaitu 25 anak.
Setelah lahir, salah satu anak mereka yang bernama Raden Kusuma menghilang. Namun, mereka mendengar suara Raden Kusuma dari kawah Gunung Bromo.
Akhirnya Rara Anteng dan Joko Seger selalu memberikan korban berupa hasil bumi pada waktu-waktu tertentu agar dapat hidup aman sejahtera.
Mulai saat itu, keturunan Rara Anteng dan Joko Seger dan warga masyarakat Tengger selalu melaksanakan tradisi tersebut hingga saat ini.
Tujuan Upacara Adat Kasada Bromo
Upacara adat Kasada Bromo diadakan setiap satu tahun sekali setiap datangnya bulan purnama pada Bulan Kasada atau Kesepuluh menurut Kalender Jawa.
Inilah sebabnya upacara adat ini disebut dengan Upacara Kasada Bromo.
Menurut kalender orang-orang Tengger, upacara adat ini dilaksanakan setiap bulan ke-12.
Mereka akan berkumpul di hamparan pasir (segara wedhi) di kaki Gunung Bromo untuk berdoa dan memberikan sesaji.
Tujuan upacara adat ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, memohon agar hasil panen melimpah, dan menolak bala atau bahaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/upacara-adat-kebo-keboan-banyuwangi.jpg)