Kedua Anaknya Alami Katarak Kongenital, Ayu Sang Ibu Sebut Sudah Dialami Sejak Dari Dalam Kandungan

"Setelah lahir, Keesokan harinya ia dioperasi. Saat itu dokter bilang, kita berdoa saja ya, bu. Karena ini buatan manusia, bukan buatan Tuhan," terang

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Dito dan Tanti berfoto bersama kedua orang tua, Jl Pangeran Natakusuma, Gg Selamat Bersama, Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, pada Senin, 30 Agustus 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Meski dua anaknya mengalami Katarak Kongenital, sang ibu, Ayu dengan setulus hati membesarkan Dito dan Tanti.

Kedua anaknya mengalami masalah pada pengelihatan (low-vision). Meski begitu, Ayu bertekad agar kedua anaknya tetap mendapatkan pendidikan yang layak.

Saat ditemui oleh Tribun Pontianak di rumahnya, di Jl Pangeran Natakusuma, Gg Selamat Bersama, Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Ayu menceritakan kisahnya dalam membesarkan Dito dan Tanti.

"Kedua anak saya mengidap Katarak Kongenital. Katarak dari dalam kandungan. Saat baru lahir dokter ada sarankan operasi kalau anak saya sudah di rentang umur 6 bulan sampai 2 tahun. Sambil menunggu umur segitu, saya melakukan pengobatan alternatif. Namun, hingga saat ini anak-anak saya tidak ada yang operasi," jelasnya, pada Senin, 30 Agustus 2021.

Selain mengalami Katarak Kongenital, anaknya yang pertama, Dito tidak memiliki lubang anus saat baru lahir.

"Setelah lahir, Keesokan harinya ia dioperasi. Saat itu dokter bilang, kita berdoa saja ya, bu. Karena ini buatan manusia, bukan buatan Tuhan," terang Ayu, sembari meniru perkataan sang dokter.

Waspadai Awan Penghujan, BMKG Rilis Potensi Banjir di Wilayah Timur Kalbar

Selama 9 tahun, ia dengan tulus mengobati sang buah hati, Dito.

"Saya selama 9 tahun bawa ke pengobatan alternatif," ungkapnya.

Demikian pula, berbagai jenis bullying telah anak-anaknya alami. Kendati demikian, tekad Ayu tak padam untuk menyekolahkan anak-anaknya.

"Dari SD sudah dibully, kan masuk sekolah umum. Dito pernah waktu SD, dipukuli lalu dibanting oleh temannya. Kalau Tanti matanya pernah ditusuk sama temannya. Mungkin karena mereka lihat matanya aneh. Saat pulang saya tanya kenapa matanya merah, ia jawab ditusuk. Akhirnya saya datang ke sekolah," jelasnya.

Dengan berbagai keterbatasan dan tantangan, ia tetap bertekad menyekolahkan anak-anaknya.

"Anak-anak saya harus sekolah. Walaupun dengan keterbatasannya, Alhamdulillah anak-anak saya tidak pernah tidak naik kelas. Dito sudah lulus PAUD, TK, SD, SMP, dan sekarang di bangku SMA. Sedangkan Tanti saat ini sudah di bangku SMP. Dua-duanya sekarang sekolah di Lembaga Pendidikan Agama Islam (LPAI) Ar Rahmah," ungkapnya.

Kendati memiliki kekurangan, Ayu selalu menganggap buah hatinya sama seperti anak-anak lain.

"Saya anggap anak-anak saya seperti biasa. Bukan anak yang punya keterbatasan. Dimana ia bisa mengerjakan segala sesuatu sendiri. Terbukti, walaupun mereka memiliki kekurangan, mereka bisa main sepeda, bahkan Tanti bisa bonceng sepupunya," tuturnya.

Berkat orang tua yang dengan tulus mengasuh buah hatinya, Dito dan Tanti meraih berbagai capaian dan prestasi.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved