Jokowi Sebut Krisis, Resesi dan Pandemi Seperti Api: Membakar Tetapi Sekaligus Menerangi

Kita ingin pandemi ini menerangi kita untuk mawas diri, memperbaiki diri dan menguatkan diri kita dalam menghadapi tantangan masa depan.

Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
Tangkapan layar YouTube Kompas TV
Presiden Jokowi menyampaikan Pidato Dalam Rangka Hut Ke-76 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD, Senin 16 Agustus 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Presiden Jokowi mengibaratkan krisis, resesi dan pandemi seperti api.

Hal itu disampaikannya dalam pidato Sidang Tahunan MPR yang digelar hari ini, Senin 16 Agustus 2021.

Berikut petikan pidato Presiden Jokowi yang dilansir dari Youtube KompasTV:

Krisis, resesi, dan pandemi itu seperti api.

Kalau bisa, kita hindari.

Tetapi jika hal itu tetap terjadi, banyak hal yang bisa kita pelajari.

Api memang membakar, tetapi juga sekaligus menerangi.

Presiden Jokowi Janji Ciptakan Lapangan Kerja Baru Berkualitas

Kalau terkendali, dia menginspirasi dan memotivasi.

Dia menyakitkan, tetapi sekaligus juga bisa menguatkan.

Kita ingin pandemi ini menerangi kita untuk mawas diri, memperbaiki diri dan menguatkan diri kita dalam menghadapi tantangan masa depan.

Pandemi ini seperti kawah candradimuka yang menguji, yang mengajarkan dan sekaligus mengasah.

Pandemi memberikan beban yang berat kepada kita.

Beban yang penuh dengan risiko-resiko dan memaksa kita untuk menghadapi dan mengelolanya.

Semua pilar kehidupan kita diuji.

Semua pilar kekuatan kita diasah.

Ketabahan, kesabaran, ketahanan, kebersamaan, kepandaian dan kecepatan kita, semuanya diuji dan sekaligus diasah.

Presiden Jokowi Minta Biaya Tes PCR di Kisaran Rp 450 Ribu sampai Rp 550 Ribu

Ujian dan asahan menjadi dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.

Bukan hanya beban yang diberikan kepada kita, tetapi kesempatan untuk memperbaiki diri juga diajarkan kepada kita.

Tatkala ujian itu terasa semakin berat, asahannya juga semakin meningkat.

Itulah proses menjadi bangsa yang tahan banting, yang kokoh dan yang mampu memenangkan gelombang pertandingan.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah melalui etape-etape ujian yang berat.

Alhamdulillah kita berhasil melampauinya.

Kemerdekaan Republik Indonesia bukan diperoleh dari pemberian ataupun hadiah.

Tetapi kita rebut melalui perjuangan di semua medan.

Perang rakyat, perang gerilya dan diplomasi di semua lini dikerahkan dan buahnya membuat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Resesi dan krisis yang datang bertubi-tubi dalam perjalanan setelah Indonesia merdeka, juga berhasil kita lampaui.

Setiap ujian memperkokoh fondasi sosial, fondasi politik, dan fondasi ekonomi bangsa Indonesia.

Respons Kebijakan Jokowi, Sutarmijdi Minta Laboratorium Swasta Turunkan Harga Tes PCR

Setiap etape memberikan pembelajaran dan sekaligus juga membawa perbaikan dalam kehidupan kita.

Pandemi Covid-19 telah memacu kita untuk berubah, mengembangkan cara-cara baru, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak relevan dan menerobos ketidakmungkinan.

Kita dipaksa untuk membangun normalitas baru dan melakukan hal-hal yang dianggap tabu selama ini.

Memakai masker, menjaga jarak, tidak bersalaman dan tidak membuat keramaian adalah kebiasaan baru yang dulu dianggap tabu.

Bekerja dari rumah, belajar daring, pendidikan jarak jauh, serta rapat dan sidang secara daring, telah menjadi kebiasaan baru yang dulu kita lakukan dengan ragu-ragu.

Di tengah dunia yang penuh disrupsi sekarang ini, karakter berani untuk berubah, berani untuk mengubah dan berani untuk mengkreasi hal-hal baru, merupakan fondasi untuk membangun Indonesia Maju.

Kita telah berusaha bermigrasi ke cara-cara baru di era Revolusi Industri 4.0 ini, agar bisa bekerja lebih efektif, lebih efisien, dan lebih produktif.

Adanya Pandemi Covid-19 sekarang ini, akselerasi inovasi semakin menyatu dalam keseharian kehidupan kita.

Pakai Baju Adat Baduy

Seperti pidato di tahunan sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) selalu mengenakan baju adat setiap menghadiri Sidang Tahunan MPR.

Tahun ini, Jokowi mengenakan pakaian adat dari Suku Baduy.

Seperti ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jokowi mengenakan pakaian serba warna hitam dengan ikat kepala berwarna hitam bercampur biru.

Baju khas baduy yang serba hitam dengan ikat kepala biru tua, biasanya ditenun secara tradisional dari bahan kapas.

Jokowi juga menyampirkan sebuah tas tradisional baduy, yang disebut koja. Koja biasanya digunakan warga Baduy untuk membawa peralatan yang diperlukan saat bepergian.

Tahun sebelumnya, residen Jokowi mengenakan pakaian adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin Wapres tampak mengenakan pakaian adat Suku Mandar asal Sulawesi Barat.

Wapres mengenakan pakaian dengan perpaduan jas dan celana hitam dengan kain sarung tenun warna merah bercorak khas Mandar yang digunakan sebagai ikat pinggang, serta penutup kepala yang disebut songkok bone.

Presiden dan Wapres tiba di gedung parlemen pada pukul 08.05 WIB, dan disambut Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, dan Ketua DPD La Nyalla Mahmud Mattalitti.

Presiden akan menyampaikan pidato dua kali dalam agenda tahunan ini. Pertama, pukul 08.30, Pidato Presiden Republik Indonesia pada Sidang Tahunan MPR-RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI.

Selanjutnya, pukul 10.30, Pidato Presiden Republik Indonesia dalam rangka Penyampaian Keterangan Pemerintah Atas RUU APBN Tahun Anggaran 2022 Beserta Nota Keuangannya pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2021-2022.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved